Showing posts with label Pergerakan Organisasi. Show all posts
Mahasiswa Anti Golput
![]() |
| Sumber: FP Mahasiswa Anti Golput |
Mahasiswa
Golput ..??? emang ada ? tanya seorang pedagang kios di depan kampus.
dengan raut muka penuh dengan tanda tanya, kemudian dia melanjutkan
pembicaraannya, "kalau Mahasiswa saja golput bagaimana dengan masyarakat
yang berpendidikan rendah ? lalu apa bedanya mas masyarakat kalangan
"rendahan" dengan mahasiswa yang aku dengar sangat idealis itu ?", lalu
aku coba menjelaskan ke ibu yang sudah
puluhan tahun berjualan di depan kampus itu, "itu hanya sebagian
mahasiswa yang berasal dari luar daerah bu", jawabku. Ibu tadi kembali
bertanya ; "mas aku baca di koran (maklum kios ibu rajin langganan jawa
pos) katanya bagi mahasiswa atau orang yang sedang bekerja di luar
daerah boleh tu milih di tempat domisilinya, bagaimana itu mas ? padahal
KPU kan udah memberikan kemudahan lho...!!".
Waduuhhhh.... (sambil menggerutu dalam hati, ibu tua ini kok tau aja ya), ya aku coba menjawab pertanyaan ibu itu lagi, "Owh iya Bu, itu benar dan alhamdulillah saya sendiri sudah mengurus pindah pilih 1 bulan yang lalu". dengan raut muka yang lega ibu itu menyudahi pertanyaannya, ya mungkin saja ibu itu sudah cukup lega dengan pertanyaannya.
Kemudian aku mohon diri untuk pergi dari kios si ibu itu setelah makan beberapa potong gorengan dan krupuk. sambil berjalan menuju kost, pertanyaan ibu tadi menjadi pertanyaan lagi untuk diriku sendiri. Kalau di pikir-pikir memang betul kata ibu tadi, bahwa ada juga mahasiswa yang tidak memiliki pilihan alias golput, berdasarkan dari pengamatan saya selama ini, mahasiswa yang golput itu memiliki latar belakang yang berbeda-beda, diantaranya adalah : Mahasiswa golput karena apatis alias tidak mau tahu. Mahasiswa yang kedua adalah karena pengaruh ideologi yang ia bawa, mahasiswa ini biasanya memiliki doktrin bahwa demokrasi itu adalah produk thogut (ajarannya cukup ekstrim sih).
Mahasiswa apatis tadi mungkin pada awalnya adalah mahasiswa yang aktif, bukan hanya memikirkan akademiknya tapi juga memikirkan negara dan bangsanya, tapi lagi-lagi (mungkin) akibat ulah oknum politisi yang berprilaku korup dan tidak amanah, menjadikan mahasiswa tersebut alergi untuk memlih wakil rakyat dan akhirnya memilih jalan "masa bodoh". namun ada juga mahasiswa yang memang benar-benar apatis yang penting "pokok`e seneng". Lalu mahasiswa golongan kedua adalah kelompok Golput karena ideologi, kelompok ini paling sulit didekati daripada kelompok apatis. kelompok ini sedikit membingungkan, satu sisi mereka menghalalkan demokrasi satu sisi lagi mengharamkan, contohnya saja ketika pemira (pemilihan raya) presiden mahasiswa, mereka turut ikut andil menyemarakkan pemira, padahal pemira sendiri adalah salah satu bagian dari proses demokrasi.
Ya, itulah sisi lain dari Mahasiswa....
bagaimanapun kita sebagai Mahasiswa rasanya sangat malu kalau tidak memilki pilihan alias golput, sebagai insan cendikia tentunya lebih memilih yang realistis daripada yang masih ambigu. diantara para caleg yang mencalonkan diri itu pasti ada diantara mereka yang lebih baik dengan melihat track record mereka selama ini.
Bagi pemeluk agama islam tentunya harus patuh pada fatwa ulama`, dalam fatwanya MUI mengharamkan untuk golput atau tidak mencontreng pada hari pemilihan,dikatakan dalam fatwa tersebut bahwa Bagi yang tidak menggunakan hak pilihnya, maka ia telah berbuat dosa, sebelum merumuskan Fatwa, MUI sudah mengkaji secara mendalam dampak positif dan negatif dari prilaku golput. hingga akhirnya memilih dan menentukan yang dampak postifnya banyak dan dampak mudharatnya lebih sedikit.
Jangan Golput demi PERUBAHAN....!!!!!
Alloh tidak akan merubah kedaan suatu kaum sebelum mereka merubah dirinya sendiri, salah satu cara untuk ikut andil dalam perubahan tersebut adalah dengan tidak golput..!!!
Keputusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan suara rakyat harus dihargai merupakan celah untuk melakukan perubahan itu. Hal itu juga menuntut masyarakat lebih jeli dalam memilih kualitas wakilnya.
Ayo, jangan GOLPUT. Mengapa? Karena dengan demikian kita bertanggungjawab dan juga sangat berhak mengontrol jalannya pemerintahan. Orang yang tidak menggunakan hak pilih pada pemilu, rasanya kurang pantas jika kelak mengkritik pemerintahan, atau menuntut sesuatu dari pemerintah, karena mereka tidak punya andil dalam proses pembentukan kebijakan melalui pemilihan umum.
Menggunakan hak suara berarti turut mengambil bagian menentukan nasib bangsa. Suara kita menentukan arah bangsa ini ke depan. Melepaskan suara kita, berarti membiarkan bangsa kita terombang-ambing tanpa arah. (Marisa Agustina)
Demokrasi hanyalah alat untuk menghantarkan kita menuju kehidupan yang lebih baik dunia dan akhirat. mari menjadi PENUNGGANG DEMOKRASI...!!!! .
#MahasiswaAntiGolput
Oleh : @JALAL
Pancor Membiru - Anjani Orange
Warna yang menghiasi kampus/sekolah di kedua kota santri tersebut tergantung dari warna selera pimpinan, selera yang bisa berubah-ubah tergantung dari "ongkos" polititik yang ditawarkan sang pemilik warna, dulu kuning,kemudian hijau, berubah ke hijau muda dan kini ada yang biru dan adapula yang Orange. padahal bendera partai masuk kampus itu hukumnya "HARAM"...!!!
Walaupun warna berubah-ubah dikedua kota ini, kehidupan masyarakat tetap saja seperti yang dulu alias stagnan, pendidikan dan perkonomian masih dibawah standard, masyarakat masih saja mengais rizki di negeri orang, karena di daerahnya sendiri miskin lapangan pekerjaan.
Fokus kerja kedua pimpinan itu sepertinya sudah berbelok arah dari khittahnya yang semula yaitu mengentaskan kemiskinan, memperbaiki moral , dan amal-amal sosial lainnya. tapi entahlah, mungkin khittahnya memang harus berpolitik praktis, kalau memang seperti itu kenapa tidak mendirikan partai politik saja, supaya tidak terkesan memperalat jamaah. politik praktis, hanya akan membuat tarik menarik kepentingan yang hanya akan membuat kerugian pada Nahdlatul Wathan tercinta.
NW tampaknya perlu menkonstruksikan kenmbali pandanganya yang utuh dan menyeluruh mengenai politik agar memiliki visi yang jelas dan menjadi acuan bagi pola perilaku politik anggotanya. Rekonstruksi pemikiran tersebut tanpa perlu mengubah identitas NW sebagai organisasi sosial-keagamaan dan bukan merupakan organisasi politik atau bergerak di lapangan politik-riil.
Politik tidaklah terbatas pada kegiatan para politisi melalui partai politik semata yang sering disebut dengan kegiatan politik yang bersifat langsung. Politik juga menyangkut kegiatan-kegiatan yang bersifat tidak langsung di luar kegiatan partai politik dalam keseluruhan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. menjaga Independensi kultural dan konsistensi NW sebagai basis civil society merupakan jalan paling menyelamatkan untuk ditempuh dalam kondisi politik apa pun.
Saya melihat NW diarahkan sebagai "Mesin Politik" yang bermuara pada pragmatisme politik. lihat saja bagaimana tokoh-tokoh NW mempromosikan partai yang dijadikan kendaraannya itu disela-sela pengajiannya. diarahkannya NW sebagai mesin politik dengan pernyataan-pernyataan yang mengarahkan warganya kepada partai politik tertentu saya rasa bukan pilihan yang tepat...!!!
Saya tidak menyalahkan apabila ada pengurus atau kader NW yang terlibat langsung dalam politik praktis, itu sudah haknya sebagai warga negara, namun alangkah baiknya tidak membawa-bawa NW dan legowo menyerahkan jabatannya kepada kader yang lain, saya rasa stok pemimpin di NW itu banyak sekali.
Maka penting sekali bagi NW sebagai salah satu elemen masyarakat sipil menjaga independensinya terhadap segala intervensi kepentingan politik. hendaklah kekuasaan tidak menjadi wacana sentral dalam kesadaran warganya sehingga mengabaikan “kewajiban” asasinya sebagai kekuatan Islam kultural. Bayang-bayang politik dan kekuasaan yang menjanjikan keuntungan tidak seharusnya menjerumuskan NW kedalam pragmatisme politik.
Dengan kembali ke orientasi awal sebagai gerakan kultural, sosial-ekonomi,pendidikan dan dakwah. ia akan mempunyai dampak politik yang besar, bisa menjadi kekuatan yang dapat menekan kekuatan politik dan pemerintahan yang korup, tanpa harus melibatkan diri pada politik praktis.
Lihat Komentar disini
Lihat Komentar disini
Menikmati Masa-Masa Pensiun
Yaachh,
Saya sudah hampir tiba di penghujung jalan menuju gelar Sarjana Teknik,
yang kalau sebutan lamanya lebih dikenal dengan gelar Insinyur.
Aktivitas saya lebih banyak dihabiskan di Jalanan sembari mencari
Inspirasi Ide sebuah judul Skripsi, kalaulah sudah lelah di Jalanan
barulah jalan-jalan ke Perpustakaan Universitas, atau ke Perpustakaan
Kota menikmati sajian buku elektronika komputer, dan kelistrikan.
Aktivitas saya tahun ini memang jauh berbeda dengan aktivitas saya pada
tahun-tahun sebelumnya, dimana hari-hari saya habis di Sekretariat UKMI
Al-Huda, DPM Fak. Teknik atau kalau tidak ditemukan dikeduanya pastinya
saya berada di Kantor BEM Universitas.
Beberapa tahun
sebelumnya, saya biasa berangkat pagi dari kosan dan pulang malam dari
kampus, sibuk dengan berbagai aktivitas yang tiada habisnya, hari-hari
saya dihiasi dengan canda tawa teman-teman se 'Profesi'. jaket Almamater
biru selalu setia mengahatkan tubuh ini
dikala kedingninan, dan memberikan perlindungan dari sengatan matahari,
Jaket Almamater biru multifungsi, bisa dipakai menjadi sajadah disaat
shalat, sebagai payung disaat hujan, dan sebagai atribut aksi demonstrsi
disaat mengkritisi kebijakan pemerintah. Kini ketiga jaket almamater
itu sudah robek karena rajinnya digunakan dalam berbagai kegiatan.
Saat ini, saya sedang memasuki masa-masa transisi, yang dulunya banyak
berkecimpung di dunia Organisasi, sekarang sudah berpindah kebiasaan,
saat ini hari-hari saya disibukkan dengan Menulis, sedikit membantu
junior di LDK UKMI dan persiapan skripsi Tugas Akhir. di Otak ini hanya
terlintas kata "LULUS" "LULUS" "LULUS" dan "LULUS". mungkin sudah
saatnya saya hengkang dari kampus ini, karena sudah bosan dilihat mondar
mandir antar fakultas.
Selamat Istirahat Sobat
Bismikallohumma Ahya Wa Bismika Amuut
#Edisi Pemira Unmer (Part 2) Masih Adakah Harapan Itu ?
Tak terasa panggung politik PEMIRA (Pemilihan Umum Raya) 2013 sudah di depan
mata. Genderang perang sudah mulai ditabuhkan. Komisi Pemilihan Umum secara
resmi telah menetapkan 4 Calon Presma yang lulus verifikasi sebagai kontestan PEMIRA 2013.
dan Seorang Calon Katua DPM-U yang tentunya akan dipilih secara aklamasi.
Melihat setiap PEMIRA dari tahun ke tahun antara 2009 -2013, nampaknya tidak jauh beda dengan tahun - tahun sebelumnya, problematika yang dialami pun tidak jauh berbeda, mulai dari terbentuknya KPU dan Panwaslu yang diisi oleh orang-orang dari kalangan partai pengusung Incumbent (walaupun hanya berganti sosok).
Problem Yang Turun Temurun
Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada suatu lembaga yang sempurna 100 % selama SDM nya masih diisi oleh Manusia, bagaimanapun manausia adalah tempat lupa dan kesalahan. Namun akankah ini yang dijadikan alasan untuk terus menerus berbuat kesalahan..??? tidak kah pernah terlintas didalam pikiran untuk membuat suatu perubahan..?? masih ingatkah mereka dg orasi dihadapan para mahasiswa baru, dg mengatakan " Mahasiswa adalah Agent Of Change"..!!! Agent Of Control..!!!! ternyata baru disadari oleh para Maba yang kini menjadi panitia KPU ,Panwaslu, bahwa yang dikatakan oleh sebior-senior mereka dahulu adalah hanyalah seremonial belaka, hanya perkataan yang mengandung sampah.
Seharusnya moment Pemira Unmer ini dijadikan sebagai Pemilu percontohan bagi daerah, dan bahkan Negara. keterlambatan dalam pendistribusian kertas suara, segel kotak suara yang rusak, tidak tepat waktu, Timing pemira yang terkesan tergesa-gesa se akan-akan menjadi rutinitas dan sudah dijadikan budaya oleh penyelenggara secara turun-temurun. Maka tidaklah heran junior juga mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para seniornya terdahulu, tidak ada panutan bagi mereka untuk dijadikan contoh.
Semoga Bukan Harapan Semu
Sudah saatnya Moment Pemira ini dijadikan sebagai garda perubahan untuk bangsa ini, pencoblosan secara manual yang hanya menghabiskan kertas, pulpen, tinta, ongkos percetakan, kesemuanya itu akan menambah tumpukan sampah. ada satu solusi yang ingin saya tawarkan untuk pemira unmer selanjutnya, selain mengurangi beban biaya juga mengurangi penggunaan kertas yaitu dengan menggunakan pencoblosan dengan sistem E-Vote. Jika menggunakan sistem e-vote, maka tidak akan ada lagi pengeluaran untuk pembiayaan perlengkapan-perlengkapan tersebut. Penggunaan sistem e-vote pada dasarnya juga membutuhkan pengeluaran untuk biaya pembuatan web dan server, namun pembuatan ini hanya satu kali dan dapat digunakan untuk periode pemira selanjutnya . Dengan demikian, alokasi dana yang dimiliki oleh pemira dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya agar semakin memeriahkan pelaksanaan pemira tersebut seperti publikasi, kampanye, dll. (itu menurut saya sebagai seorang calon sarjana Teknik Elektro).
Pemilihan Ketua KPU, Panwaslu beserta anggota masing-masing hendaknya dilakukan secara inklusif, dipublikasikan ke masing-masing fakultas/jurusan dan atau dipublikasikan via online. supaya tidak terjadi perekrutan yang hanya didominasi oleh golongan "Penguasa". karena inilah yang akan menyebabkan KPU dan Panwaslu sulit untuk mempertahankan diri sebagai pihak independent yang jujur dan bersih.
Presiden Mahasiswa dan DPMU sebagai Penanggung Jawab juga hendaknya selektif didalam menjaring SDM yang akan bekerja di KPU dan Panwaslu, sebelum mereka turun ke lapangan hendaknya diberikan training khusus supaya mereka dapat bekerja sesuai SOP yang telah tercantum dalam undang-undang.
Mohon maaf apabila ada kesalahan.
Melihat setiap PEMIRA dari tahun ke tahun antara 2009 -2013, nampaknya tidak jauh beda dengan tahun - tahun sebelumnya, problematika yang dialami pun tidak jauh berbeda, mulai dari terbentuknya KPU dan Panwaslu yang diisi oleh orang-orang dari kalangan partai pengusung Incumbent (walaupun hanya berganti sosok).
Problem Yang Turun Temurun
Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada suatu lembaga yang sempurna 100 % selama SDM nya masih diisi oleh Manusia, bagaimanapun manausia adalah tempat lupa dan kesalahan. Namun akankah ini yang dijadikan alasan untuk terus menerus berbuat kesalahan..??? tidak kah pernah terlintas didalam pikiran untuk membuat suatu perubahan..?? masih ingatkah mereka dg orasi dihadapan para mahasiswa baru, dg mengatakan " Mahasiswa adalah Agent Of Change"..!!! Agent Of Control..!!!! ternyata baru disadari oleh para Maba yang kini menjadi panitia KPU ,Panwaslu, bahwa yang dikatakan oleh sebior-senior mereka dahulu adalah hanyalah seremonial belaka, hanya perkataan yang mengandung sampah.
Seharusnya moment Pemira Unmer ini dijadikan sebagai Pemilu percontohan bagi daerah, dan bahkan Negara. keterlambatan dalam pendistribusian kertas suara, segel kotak suara yang rusak, tidak tepat waktu, Timing pemira yang terkesan tergesa-gesa se akan-akan menjadi rutinitas dan sudah dijadikan budaya oleh penyelenggara secara turun-temurun. Maka tidaklah heran junior juga mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para seniornya terdahulu, tidak ada panutan bagi mereka untuk dijadikan contoh.
Semoga Bukan Harapan Semu
Sudah saatnya Moment Pemira ini dijadikan sebagai garda perubahan untuk bangsa ini, pencoblosan secara manual yang hanya menghabiskan kertas, pulpen, tinta, ongkos percetakan, kesemuanya itu akan menambah tumpukan sampah. ada satu solusi yang ingin saya tawarkan untuk pemira unmer selanjutnya, selain mengurangi beban biaya juga mengurangi penggunaan kertas yaitu dengan menggunakan pencoblosan dengan sistem E-Vote. Jika menggunakan sistem e-vote, maka tidak akan ada lagi pengeluaran untuk pembiayaan perlengkapan-perlengkapan tersebut. Penggunaan sistem e-vote pada dasarnya juga membutuhkan pengeluaran untuk biaya pembuatan web dan server, namun pembuatan ini hanya satu kali dan dapat digunakan untuk periode pemira selanjutnya . Dengan demikian, alokasi dana yang dimiliki oleh pemira dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya agar semakin memeriahkan pelaksanaan pemira tersebut seperti publikasi, kampanye, dll. (itu menurut saya sebagai seorang calon sarjana Teknik Elektro).
Pemilihan Ketua KPU, Panwaslu beserta anggota masing-masing hendaknya dilakukan secara inklusif, dipublikasikan ke masing-masing fakultas/jurusan dan atau dipublikasikan via online. supaya tidak terjadi perekrutan yang hanya didominasi oleh golongan "Penguasa". karena inilah yang akan menyebabkan KPU dan Panwaslu sulit untuk mempertahankan diri sebagai pihak independent yang jujur dan bersih.
Presiden Mahasiswa dan DPMU sebagai Penanggung Jawab juga hendaknya selektif didalam menjaring SDM yang akan bekerja di KPU dan Panwaslu, sebelum mereka turun ke lapangan hendaknya diberikan training khusus supaya mereka dapat bekerja sesuai SOP yang telah tercantum dalam undang-undang.
Mohon maaf apabila ada kesalahan.
PEMIRA UNMER 2013 (PART 1)
Semangat
Pagi Mahasiswa Unmer.....!!! Merdeka...!!!
Tanpa terasa PEMIRA (Pemilihan Raya) Universitas Merdeka Malang akan datang lagi, tentunya kata "Pemira" sudah tidak terdengar asing lagi ditelinga Mahasiswa lama ? bagi Mahasiswa baru mungkin masih terdengar agak asing ...., baiklah saya akan terangkan secara global apa itu Pemira...
Tanpa terasa PEMIRA (Pemilihan Raya) Universitas Merdeka Malang akan datang lagi, tentunya kata "Pemira" sudah tidak terdengar asing lagi ditelinga Mahasiswa lama ? bagi Mahasiswa baru mungkin masih terdengar agak asing ...., baiklah saya akan terangkan secara global apa itu Pemira...
PEMIRA UNMER merupakan salah satu bentuk representasi penerapan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan kita sebagai mahasiswa. Melalui event inilah kita bisa mulai mengenal dan belajar secara langsung mengenai penerapan demokrasi. Baik panitia, peserta, maupun civitas academica lainnya yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Dalam event ini kita akan merasakan betapa berharganya nilai yang telah diwariskan secara turun temurun dari para pendahulu kita yang tentunya haruslah kita kembangkan dan lestarikan nilai-nilanya. Berbicara mengenai pemilihan tentulah erat kaitannya dengan pelaksanaan dan penghayatan demokrasi, yang dalam hal ini terselenggara di tingkat universitas, Fakultas, Jurusan, dan Diploma. Penghayatan demokrasi tersebut menjadi penting tidak lain karena di universitaslah para putra putri terbaik bangsa dilahirkan yang tentunya diharapkan dapat menjawab tantangan masa depan.
Kampus adalah miniatur Negara yang didalamnya terdapat Lembaga Eksekutif, Legislatif, Yudikatif dan tentunya masyarakat dengan berbagai latar. menurut Banner yang terpampang di Pinggir Jalan Depan Fakultas Teknik; tertulis PEMIRA Unmer akan berlangsung pada tanggal 30 Mei 2013. cukup kaget melihat banner yang ukurannya cukup besar tsb, selain karena timingnya mendekati UAS dan juga sangat singkat (terkesan sangat tergesa-gesa), namun saya sangat apresiasi kinerja KPU dan KPUD di masing-masing Fakultas, karena mampu bekerja singkat dan sangat cepat, semoga saja PEMIRA tahun ini tidak se semrawut PEMIRA tahun lalu.
Sederhananya, PEMIRA UNMER adalah proses pemilihan Pemimpin Mahasiswa atau lebih dikenal dengan Presiden Mahasiswa (Presma), Ketua DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU); ditingkat Universitas. Untuk ditingkat Fakultas; Pemilihan Ketua BEM-F dan DPM-F, ditingkat Jurusan (HMJ);Pemilihan Ketua Himpunan (Kahim) dan pemilihan ketua Program ditingkat diploma.
MAMPUKAH PEMIRA UNMER 2013
- Menjadi wajah demokrasi dari kaum intelektual di Indonesia..???
- Independen, Bersih dan jujur ??
- Meminimalisir dana ???
- dan segudang harapan lainnya...
Rekonstruksi Budaya Kampus
![]() |
| Kartun Ngampus - Kebahagiaan Mahasiswa |
Kampus adalah :
Daerah lingkungan bangunan utama perguruan tinggi (universitas, akademi)
tempat semua kegiatan belajar-mengajar dan administrasi berlangsung.
Universitas tempat kita menggali ilmu tanpa habis-habisnya, namanya juga "Maha", predikat "Maha" yang disandang Mahasiswa sebenarnya memberikan beban moral dan harus dipertanggung jawabkan pada masyarakat, Mahasiswa sudah terlanjur dicap kaum intelektual "serba bisa" oleh masyarakat, oleh karena itu Mahasiswa harus bisa membaur dengan masyarakat dan memberikan energi positif bagi lingkungan setempat. Sesuai dengan Tri dharma perguruan Tinggi Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, Pengabdian pada Masyarakat, mahasiswa dituntut untuk mempelajari ilmu-ilmu diluar jurusan atau prodi yang diambil. karena keterbatasan ilmu dibangku kuliah inilah yang membentuk berbagai kegiatan diluar tembok jurusan/prodi, kemudian inilah yang akan menimbulkan budaya sendiri untuk berkegiatan, berkarya dengan segala
keahlian atau potensi yang dimilikinya yang membentuk beragam bentuk
budaya kampus.
Tentunya budaya yang dimaksud disini adalah budaya yang mampu membentuk jati dirinya sebagai seorang Intelektual yang profesional pada bidangnya, dan juga cakap dalam memimpin, berinovasi, dan wawasan yang luas. untuk menuju kearah sana, maka Mahasiswa dituntut untuk menunjang Sof Skillnya yang bisa diperoleh dari kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler kampus seperti; dengan aktif di Unit-Unit Kegiatan Mahasiswa, BEM, DPM, HMJ, HMP ataupun organisasi-organisasi Ekstra Kampus.
Posisi
mahasiswa sebagai middle class
menyatakan peran mahasiswa untuk menjembatani antara pemerintah dengan rakyat.
Mahasiswa merupakan komunitas terpelajar yang atas segala kelebihan kapasitas
intelektualnya membuatnya memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. Dengan
segala kemampuan berpikir kritisnya mahasiswa seharusnya dapat menjawab
kebutuhan praktis masyarakat berdasarkan realita yang ada.
Melihat dinamika kampus saat ini, sedikit demi sedikit budaya kampus sudah mulai bergeser dengan Mahasiswanya yang semakin apatis dengan lingkungan, budaya hedonisme yang kian merajalela, Mahasiswa hanya disibukkan dengan kegiatan perkuliahan semata, sehingga Mahasiswa yang seperti ini orientasi utamanya adalah untuk memudahkannya mencari pekerjaan apabila mereka sudah lulus kelak. Maka kita tidak heran apabila menemukan mahasiswa yang kurang bisa berinteraksi dengan masyarakatnya sendiri, apatis dengan lingkungan tempat tinggalnya. Energy Kapitalistik sangatlah kuat, sehingga membuat sebagian besar Mahasiswa tidak mampu membendungnya, bahkan diantara mereka banyak yang terseret derasnya arus kapitalisme yang sengaja dipelihara oleh pemerintah.
Untuk
menyelesaikan masalah ini, maka dibutuhkan adanya perbaikan orientasi keluarga
mahasiswa, sinergitas dan dukungan dari birokrasi kampus. Langkah-langkah yang bisa ditempuh antara lain, optimalisasi
kaderisasi untuk meningkatkan partisipasi aktif massa kampus, meningkatan daya
serap aspirasi dan advokasi dengan meningkatkan jumlah partisipasi dalam bidang
pelayanan mahasiswa, memberdayakan potensi massa kampus, baik minat, bakat
maupun keprofesian.
Subscribe to:
Posts (Atom)
.png)














