Showing posts with label Islam. Show all posts

Masuk Neraka Gara-gara Maulidan ?

Hidangan berupa hasil bumi di Pringgasela Lombok Timur

Ternyata yang merayakan maulid Nabi Muhammad SAW bukan hanya di Indonesia, tapi di seantero dunia. perayaan maulid di setiap daerah dan negara memiliki ciri khas tersendiri. sebagai contoh : di Lombok NTB biasanya acara maulid dirangkai dengan serakal, serakal adalah lantunan sirah nabi Muhammad SAW yang dilantunkan dengan nada dan intonasi yang meliuk-liuk. 

Kemudian dilanjutkan dengan acara ngurisan , ngurisan adalah mencukur beberapa helai rambut bayi/balita sebagai manifestasi kesyukuran atas dikarunianya rizki berupa anak. biasanya prosesi ngurisan diikuti dengan lantunan shalawat. 

Bagian utama acara maulidan diisi dengan ceramah oleh tokoh agama atau yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru (Kalau di Jawa disebut Kiyai), acara tabligh ini biasanya dilaksanakan didalam masjid dan diikuti oleh seluruh elemen masyarakat setempat. 

Dan di akhir acara barulah acara makan-makan yang disajikan dengan dulang secara berkelompok, satu kelompok terdiri atas dua hingga tiga orang. Setelah makan usai jamaah akan mendapatkan berkat yang diisi didalam kresek plastik atau bahkan menggunakan bakul. 

Demikian prosesi perayaan maulid Nabi di Pulau Lombok, tentu di daerah lain mempunyai cara tersendiri tergantung dari adat dan budaya setempat.

Ditengah semaraknya perayaan maulid Nabi, ternyata ada juga sebagian kalangan ulama muslim yang menganggapnya sebagai perbuatan Bid`ah atau melakukan suatu perbuatan yang dibuat-dibuat dalam agama. tentu hal ini selalu menjadi perdebatan di setiap datangnya musim PHBI (Peringatan Hari Besar Islam). jelas saya katakan ini UNFAEDAH ! . mermforsir tenaga dan fikiran untuk membahas sesuatu tanpa ujung pangkal.

Peringatan Malid Nabi  tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah, karena memang waktu itu beliau masih hayat, tentu tidak akan mungkin mengadakan perayaan untuk dirinya sendiri. setiap apa yang kita lakukan baiknya terlebih dahulu menimbang antara manfaat dan mudharatnya.

1. Mudharat Peringatan Maulid Nabi Untuk Agama Islam dan kehidupan bermasyarakat 

Terkait dengan hal ini saya tidak menemukan.

2. Manfaat Peringatan Maulid Nabi Untuk Agama Islam dan kehidupan bermasyarakat 

  • Meningkatkan Ukhuwah
  • Menggugah semangat berislam
  • Mereview ingatan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW
  • Syiar Islam

Sahabat Nabi Tidak Pernah Maulidan

Sahabat nabi adalah orang-orang pilihan yang sudah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW, sehingga kecintaan meraka sudah benar-benar tertanam dalam hatinya, tentu keimanan sahabat nabi berbeda dengan kita yang hidup pada zaman ini, sehingga ulama berijtihad atau melakukan berbagai metode supaya ummat Islam selalu ingat terhadap Nabinya. 

Baiklah, Sekarang kita akan menghitung jumlah ummat muslim yang ada di Indonesia menurut data BPS 236,53 juta jiwa (86,88%) beragama Islam. Artinya mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, dari total tersebut sekitar 99 koma sekian persen melakukan peringatan hari besar islam seperti maulid, dan isra mi`raj, anda bisa menghitung sendiri berapa banyak ummat muslim yang masuk neraka dan berapa jumlah muslim yang menikmati syurga. :D.




 


Disaat Ulil takut dengan zakir naik

Siapa yang tidak kenal dengan Ulil abshar abdalla, yang seharusnya nama akhirnya itu abdullah diganti dengan abdalla, mungkin supaya dikatakan kekinian. Manusia bisa terkenal karena dua faktor; positif dan negatif. Nampaknya ulil lebih cocok digolongkan kedalam kategori kedua. Statemen-statemennya banyak memojokkan ajaran agamanya sendiri, karena sikapnya yang kontroversial ini menjadikan saya ragu akan agama yang dianutnya.

Statement kontroversialnya menjadikan dirinya tidak disukai oleh banyak kalangan,termasuk di negara-negara tetangga, dia pernah ditolak pemerintah malaysia,karena oleh ulama setempat dia sudah dicap sesat dan menyesatkan.

Ulil selalu mengutamakan logikanya sendiri dalam menafsirkan ayat-ayat Alloh, bahkan ulama-ulama terdahulu pun bisa disalahkannya,seakan-akan dia mendakwakan dirinya bahwa semua yang dikatakannya itu benar dan pendapat lain salah. Disinilah terkadang tempat ironinya ulil, dia mengatakan harus menghormati pendapat orang lain,disisi lain dia tidak menghargai pendapat orang lain, dia menyeru untuk toleransi terhadap agama lain, padahal dia masih mencaci maki ulama yang berseberangan dengannya,apakah ini yang dinamakan toleransi ? Toleransi dengan agama lain,namun kita tidak bisa toleransi dengan saudara seagama yang berbeda pemahaman ???

Tadi malam saya ingin mention @ulil melalui akun twitter, namun setelah saya cek ternyata ulil sudah memblokir pertemanan saya, padahal selama ini saya tidak pernah berkata kotor atau kasar padanya. Masak sih ulil takut dengan kelas kacangan seperti saya ini.

Sejam berikutnya saya masuk melalui akun twitter yang lain, dan melihat timeline @ulil . Pada bagian atas dia mengomentari mention salah seorang follower, follower itu bertanya "@ulil @inJEFFwetrust Gmn pendapat abang ttg Dr.Dzakir Naik?" . Kali ini ulil menjawab dengan jawaban "ngeles". karena tak mau terlihat kalah diapun sengaja menjawab dengan kurangnya ketertarikan ulil pada zakir naik.

Ya maklum saja, segala permasalahan agama selalu dianalogikan dengan  akal sendiri oleh ulil, alquran pun berani dikritik olehnya tanpa memperhatikan kajian-kajian ilmiah ulama terdahulu. Beda halnya dengan Dr zakir naik, walaupun beliau seorang dokter, beliau sudah mengislamkan ribuan orang melalui ceramah-ceramah dan menyelesaikan permasalahan agama dengan nash-nash yang shahih dan bisa diterima oleh akal.

Tips menghindari diri dari kerasukan jin

sumber : google
Saya sekedar ingin berbagi pengalaman tentang makhluk halus berdasarkan fakta yang pernah saya alami beberapa tahun silam saat saya mengenyam pendidikan di salah satu institusi pendidikan di Lombok.
Saya menulis tentang ini karena di kampus ada salah seorang sahabat karib yang mengalami kerasukan jin jahat di dalam kampus pagi tadi. Jin itu ternyata tidak pilih laki atau perempuan sebagai target. walaupun rata-rata yang menjadi target mereka memang perempuan, karena perempuan secara fisik memang lemah,biasanya perempuan akan cepat dirasuki pada saat mensturasi.
Lalu bagaimana dengan pria? Tidak bisa dipungkiri,sebagaimana yang saya katakan diatas juga bisa dirasuki. Terutama laki-laki yang raganya lemah dan suka menyendiri dengan pikiran kosong,seperti halnya yang terjadi pada sahabat saya.
Di lembaga tempat saya mengenyam pendidikan dulu, saya sering menemukan siswi kerasukan, dengan berbagai tingkah, namun mereka cepat ditangani oleh para ustadz. Bahkan teman sekelas saya ada yang sampai berhenti sekolah.
Pada tahun penerimaan siswa baru,saya menjabat sebagai pengurus organisasi siswa, melihat siswi baru hati pun terpaut pada salah seorang siswi yang bagi saya dia adalah siswi tercantik pada angkatan itu,akhirnya kami memadu cinta walaupun hanya lewat perantara surat menyurat (so sweet :) ) . Sekitar setahun lamanya kami menjalin kasih, ada orang lain yang ingin merenggutnya dari tangan saya, sebagai lelaki saya pun mempertahankan si dia,karena memang saya sungguh mencintainya. Kami sama-sama sangat saling mencintai sehingga dia tidak mau jatuh ke tangan pria lain.
Sebagaimana dalam pepatah mengatakan "cinta ditolak dukun bertindak". Nyatanya itulah yang terjadi pada diri si cewek. Ahli rukyah yang mengobatinya bertutur bahwa yang menjadi target pada awalnya adalah saya, orang itu ingin menyingkirkan saya dari si cewek. Agar dia bisa mendapatkan si cewek. Namun sihirnya mental begitu saja saat dia mencoba menjahati saya (bukannya saya sok kebal). Mendengar penuturannya seperti itu saya hanya diam tertegun bahkan hampir tidak percaya.
Hingga akhirnya orang itu menyihir si cewek, entah sudah berapa kali si cewek kerasukan jin,hingga si cewek merasa dirinya ditusuk tusuk, saya membayanginya seperti di film-film horror. Tapi ini kejadiannya adalah fakta dan didepan mata saya sendiri, merintih kesakitan seperti ditusuk tusuk. Waktu itu saya tidak bisa melakukan apa-apa selain menjaga mukanya dari tangannya sendiri.
Hingga akhirnya pertolongan ahli ruqyah pun datang, sehingga si cewek tersadar. Setelah itu dilakukan terapi-terapi rukyah beberapa hari lamanya. Setelah si cewek sembuh total barulah saya diceriterakan seperti cerita diatas.
Lalu teman-teman menanyakan ke saya, perihal kenapa saya yang waktu itu menjadi target tapi tidak kena sihir,alias sihirnya mental. Saya bingung mau jawab seperti apa, karena bagi saya, saya tidak memiliki amalan-amalam khusus.
Kemudian ustadz saya menjelaskan. Bahwa doa yang telah diajarkannya kepada kami adalah doa yang sangat mustajab untuk menghindari diri dari kejahatan setan. Shalat berjamaah juga sebagai salah satu faktor utamanya. Setelah itu barulah saya tersadar, bahwa yang saya selalu baca setiap hari adalah doa sobah wal masa' (doa pagi dan petang). Alhamdulillah 'ala kulli haal.
Berdasarkan dari pengalaman kejadian diatas, berikut saya simpulkan tips-tips untuk menghindari diri kejahatan mahluk halus :
1. Takutlah hanya kepada Alloh SWT,
Yaitu menghindari diri dari perbuatan syirik (menyekutukan Alloh), melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya
2. Bacalah doa pagi dan petang,
Ini akan menjaga diri dari segala kejahatan,bukan hanya kejahatan makhluk halus. Untuk bacaan silahkan searching di google dengan sumber yang terpercaya (insya alloh akan saya lampirkan pada postingan berikutnya). Doanya memang cukup panjang, dulu awalnya saya membacanya diatas kertas,lama kelamaan jadi hafal.
3. Bergaullah bersama teman-teman, hindari terlalu banyak menyendiri apalagi sampai pikiran kosong.
Tips diatas cukup sederhana, asalkan bisa secara istiqomah menjalankannya. Paksalah diri anda untuk mengamalkan tips diatas, semakin lama anda akan menjadi terbiasa, dan tidak akan merasa terbeban lagi.

Idul Fitri 1436 H di Selong LOTIM

Shalat Idul Fitri di Selong

Sebagaimana yang telah diumumkan oleh Menteri Agama, bahwa hari raya idul fitri jatuh pada Hari Juma`at tanggal 17 Juli 2015, semarak masyarakat menyambut hari kemenangan sangat antusias diberbagai Kota hingga ke pelosok desa, tak ketinggalan masyarakat selong juga melakukan konvoi di jalanan, guna mengekspresikan kegembiraan mereka.

Pagi harinya kami sekeluarga malakukan Shalat Idul fitri yang dilaksanakan di Taman tugu Selong, taman tugu terletak di sebelah timur Masjid Raya Al-Mujahidin Selong, tahun ini memang agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang mana tahun sebelumnya pelaksanaan shalat idul fitri dilaksanakan di dalam Masjid Raya, kemudian untuk tahun ini dilaksanakan di Taman Tugu. bagi saya pelaksanaan shalat idul fitri di lapangan memberikan suasana yang berbeda dan memang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dilaksanakan di tanah lapang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang saya kutip dari almanhaj.or.id:

Disunnahkan bagi imam atau wakilnya untuk berangkat menunaikan shalat ‘Ied di tanah lapang dan tidak ke masjid, kecuali karena alasan tertentu. [1]

Dan dikecualikan dari demikian yaitu yang berdiam di Makkah yang semoga Allah tambahkan padanya kemuliaan. Oleh karena itu tidak pernah sampai kepada kita satu (riwayat) pun dari pendahulu mereka, bahwa mereka shalat kecuali di masjid mereka (Masjidil Haram) [2]

Dan dalil shalat dua hari raya di lapangan diantaranya :

[1]. Riwayat yang telah lewat pada hadits Ummu ‘Athiyyah mengenai perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluar (shalat) ke lapangan.

[2]. Riwayat yang datang dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika keluar (shalat) di hari Raya, beliau menyuruh menancapkan tombak, lalu meletakkannya di antara tangannya, lalu ia shalat menghadapnya dan para sahabat (mengikuti) di belakangnya. Hal ini dilakukannya sewaktu bepergian, kemudian para pemimpin mengikuti (sunnah) tersebut.

Dalam riwayat lain, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menancapkan tombak di depannya pada ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha kemudian beliau shalat.

Dan dalam riwayat lain :

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat shalat ke lapangan, dan tombak kecil ada ditangannya, ia membawa dan menancapkannya di lapangan, lalu ia shalat menghadapnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim] [3]

[Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi’ Fii Shalaatit Tathawwu’, edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i]

Diantara pejabat yang hadir bersama masyarakat dalam pelaksanaan idul fitri ini diantaranya adalah :
Bupati Ali Bin Dahlan, Wakil Bupati Choirul Warisin dan sejumlah pejabat dilingkungan pemerintah Lombok timur.

Semoga amal ibadah yang telah kita lakukan selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan diterima oleh Alloh SWT, serta menambah ketaqwaan kita kepadaNya.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H



Mulutmu Harimaumu


Sudah banyak kata bijak yang menyinggung tentang pentingnya menjaga lisan (lidah), berapa banyak kaum yang terlibat konflik gara-gara seorang yang tidak pandai menjaga lidah, berapa banyak hubungan keluarga retak karena hanya gara-gara lidah, berapa banyak negara terlibat adu kekuatan karena lidah tak bertulang ini.

Namun, berapa orang yang mendapat kebaikan hanya karena menjaga lidah. Terlihat sepele namun memberikan efek yang cukup besar. banyak dari kalangan ilmuan yang memberikan perhatian besar terhadap apa yang akan diakibatkan lisan, sehingga mereka selalu menasihati kita lewat syair, pidato tulisan dan lain sebagainya.

Dua orang yang tadinya berteman dengan akrab sehidup semati bisa jadi saling membenci karena lisan, suami istri bisa jadi hubungannya retak karena lisan, sungguh apa yang keluar dari lisan baik ataupun buruk akan menimbulkan pengaruh yang besar khususnya dalam suatu hubungan.

Presiden pertama Indonesia adalah sosok orator ulung pada masanya, dia berhasil menggetarkan hati rakyat melalu orasinya yang bijak dan tegas, sehingga pidatonya akan selalu ditunggu tunggu oleh rakyat. Sedikit mengingat sejarah tentang kehancuran Islam di Baghdad, Pasukan Tartar berhasil masuk kota Bagdad, menghancurkan dan membakar Bagdad, karena adanya pengkhianatan, yang dilakukan seorang pengikut Syiah, dan bersedia berkolaborasi dengan pasukan Tartar, menghancurkan Daulah Abbasiyah. Bagdad, seperti yang ada dalam kisah ‘1001 malam’, yang menggambarkan kemasyhuran kekuasaan Islam, pengaruh peradabannya, dan nilai-nilai, yang sangat mulia, pupus oleh pengkhianatan dan perang, dan menghancurkan kekuasaan Islam.

Sungguh, apa yang diucapkan lisan akan berdampak baik ataupun buruk, tergantung dari apa yang diucapkannya, sembari menasehati diri, marilah kita memperhatikan lidah yang tak bertulang ini untuk kebaikan pribadi dan orang banyak, jangan sampai karena lidah kita terjerumus kedalam lubang kerusakan dan akan merugikan orang lain. 
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf

Tradisi Maulid Nabi di Dasan Agung Mataram

Sore tadi saya menerima SMS dari orang terdekat saya di kampus, yang sedang pulang liburan ke kampung halamannya di Kota Mataram, SMS yang dikirimnya membuat saya terkejut.  Isi SMS nya adalah sebagai berikut :

"Kak, saya takut melewati dasan agung, banyak orang mabuk di jalanan memperingat maulid Nabi, sampai-sampai ada polisi ditikam "
Melihat SMS seperti itu membuat saya bertanya tanya dalam hati, apakah betul apa yang dikatakannya ?, kemudian untuk membuktikan perkataannya, saya langsung berselancar di mesin pencari Google,ternyata  apa yang dikatakan teman saya tadi sama persis dengan apa yang ditulis oleh seorang blogger http://mauliddasanagung.blogspot.com/ , saya hanya bisa geleng-geleng kepala.
apakah memang seperti itu perayaan maulid nabi SAW ? yang dirayakan dengan arak-arakan dijalanan sambil minum-minuman keras diikuti dengan musik-musik dugem. Naudzubillah..........








Berikut saya petik tulisan dari http://mauliddasanagung.blogspot.com/ dan http://darulhikmahgapuki.blogspot.com/2013/01/maulid-nabi-muda-mabok-di-jalan-yang.html "

"Dasan Agung yang terletak di tengah-tengah kota Mataram merupakan “Betawinya” Kota Mataram karena disana masih terpeliharan tradisi nenek moyang hingga sekarang. walaupun posisinya yang strategis berada di tengah kota, namun tidak menyebabkan masyarakatnya serta merta melupakan tradisi yang sudah turun temurun itu. Bila tradisi yang terpelihara sesuai dengan norma agam Islam maka itu sangat bagus dan perlu di pelihara tapi bila menyalahi norma agama Islam justru tradisi yang jelek itu yang harus di hilangkan.  Mengenai tradisi yang terperlihara sampai sekarang adalah berupa Maulid Nabi Muhammad SAW yang di warnai dengan perbuatan yang berlawanan dengan norma agama berupa mabuk-mabukan sewaktu mengiringi pereje(kuda-kudaan yang dibopong oleh 4 pemuda dan di atasnya ada anak kecil yang akan disunat duduk) inilah yang menyebabkan Kelurahan Dasan Agung terkenal. Tidak hanya para pemuda yang mabuk-mabukan tapi anak kecil yang masih sekolah di tingkat SD pun mengikuti para pemuda untuk mabuk-mabukan. Hal ini sering timbul pertanyaan dari masyarakat di luar Dasan Agung, apakah orang tua anak sekolah tersebut tidak memarahi anaknya?? Dan bagaimana peran Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama dalam kejadian mabuk-mabukan waktu peringatan Maulid Nabi? Dengan ungkapan yang sudah umum “SEKALI SETAHUN…” setiap perayaan maulid Nabi, sebagian  orang tua akan cuek melihat kelakuan anaknya dan malah orang tua tersebut yang menyuruh dan mendukung anaknya untuk berbuat seperti itu. Hal ini bisa dilihat dengan semakin banyaknya anak-anak kecil yang menyemir rambutnya dengan warna warni mulai dari yang harganya murah ampe yang mahal, mereka ikut bergoyang ria di jalanan sambil mengiringi pereje (kuda-kudaan), mulai mencoba merokok, mencoba minum-minuman keras(minum Tuak) plus libur sholat 5 waktu. NA’UDZUBILLAAHI MINJALIK. Pernah dua kali menurut penulis ketahui para tokoh agama dan tokoh masyarakat bersepakat dalam musyawarah di masjid untuk meniadakan pereje tersebut namun setelah keluar dari masjid, tokoh agama dan masyarakat yang semula mendukung  ternyata banyak yang tidak mengikuti hasil kesepakatan bersama. Tokoh agama yang di komandoi oleh penghulu waktu itu justru takut untuk mendukung meniadakan pereje tersebut, alasannya karena takut  ancaman dari sebagian kecil masyarakat yang tidak akan menaikkan DULANG DI MASJID jika pereje tersebut di tiadakan. Sedangkan tokoh masyarakat yang konsekuen mendukung pereje di tiadakan dalam peringatan Maulid Nabi, menjadi bahan gunjingan dan ejekan. Malah yang lebih jahilnya lagi di depan rumah tokoh masyarakat yang konsekuen itu di tumpahi minuman tuak yang memabukkan tersebut dan pernah di rumah penulis sendiri ada anak muda yang mabuk yang sengaja masuk untuk memancing orang tua penulis. Untung keburu di ajak keluar oleh temannya waktu itu. Kini tokoh agama dan masyarakat yang ada sudah tidak bisa “mengaum” lagi dan tidak ada lagi yang keras menolak pereje yang di iringi dengan mabuk-mabukan. Hal ini di sebabkan karena :  Tokoh agama dan masyarakat yang keras tidak setuju pereje di adakan setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah meninggal dunia. Tokoh agama dan masyarakat sekarang kurang di dengar omongannya karena kurang tegas dalam mengambil sikap. Sebagian tokoh masyarakat yang dulu setuju pereje diadakan sekarang menjadi tokoh masyarakat dan tokoh agama. Awal mula adanya pereje terutama di lingkungan Gapuk yang penulis ketahui dan dengar dari orang tua, keluarga dan masyarakat bisa di kategorikan menjadi:

1.      Pereje tahap awal. Pada tahap ini masyarakat yang akan menyunatkan anaknya membuatkan pereje berupa banguan yang bernuansa islami seperti masjid, gapura dll. Iringan musiknya pun masih bernuansa islami seperti rudat, kasidah dll.

2.      Pereje tahap kedua. Pada tahap ini masyarakat sudah mulai malas membuatkan anaknya pereje yang bernuansa islami dan lebih senang menyewa yang sudah jadi seperti kuda-kudaan yang menyerupai patung. Speaker merk TOA pada tahap ini dah menjadi booming tuk digunakan dan alunan musiknya pun dah mulai diganti yang semula musik islami menjadi musik gendang beleq yang menyerupai musik orang Hindu. Dengan masuknya musik gendang beleq dalam pereje tersebut, otomatis nuansa keislaman pada pereje yang di adakan menjadi hilang dan berubah menjadi nuansa kehinduaan. Hal ini mengungkit memori para tokoh agama dan masyarakat akan nasib orang tua pada jaman penjajahan kerajaan hindu di dasan agung. Pada tahap ini juga masyarakat yang masih lemah agamanya mulai mengkonsumsi minuman keras (minum Tuak).

3.      Pereje tahap ketiga. Pada tahap ketiga atau sekarang ini pereje tetap menggunakan kuda-kudaan dan musik yang mengiringi pereje pun mengalami perubahan dratis. Yang semula musiknya menggunakan gendang beleq telah diganti dengan musik dangdut cabul, pop, rock dll. Sound system yang digunakan untuk mengiringi pereje mendekati sound system pada diskotik. Sehingga banyak masyarakat di luar dasan Agung mengatakan diskotik berjalan bila ada pereje. Pada tahap ini ini juga sudah mulai adanya pengkaderan bagi anak-anak pra sekolah sampe SMA. Hal ini bisa dilihat dengan keterlibatan anak-anak pra sekolah ketika mengiringi pereje di jalanan. Anak-anak ini otomatis akan meliburkan diri dari kegiatan sekolah dan yang sudah baligh pun otomatis akan meliburkan diri dari kegiatan sekolah dan sholat.

Tradisi yang sudah mendarah daging ini  tidak bisa langsung di hapuskan karena banyak faktor yang menjadi penyebab mengapa masyarkat masih kuat mempertahankan tradisi ini terutama dengan adanya pereje setiap perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, bila akan menghentikan pereje di lingkungan Gapuk maka sebagian masyarakat mengancam tidak akan menaikkan dulang ke masjid, orang tua semakin banyak yang sengaja menyewa pereje sebagai bentuk perlawanan terhadap keputusan dari tokoh  agama dan masyarakat dan orang-orang yang mabuk pada waktu pereje di arak baik pada waktu malam maupun pagi semakin banyak malah sampai mengundang dari luar lingkungan Gapuk untuk ikut mabuk-mabukan pada waktu itu. Maka para tokoh agama dan masyarakat sekarang ini memilih menggunakan alternatif terakhir dalam menyikapi tradisi mabuk pada perayaan Maulid Nabi dengan berdiam diri. Tidak melarang dan tidak menganjurkan. Harapan dan do’a dihati para tokoh agama dan masyarakat agar orang yang sekarang mabuk-mabukan yang menghina hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bisa sadar sendiri atau ajal yang menjemput mereka biar berkurang yang menghina kelahiran Nabi Muhammada SAW.  Semoga suatu saat nanti masyarakat Dasan Agung bisa total memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tanpa ada yang melanggar perintah agama"










Sumber foto :


Melihat ungkapan seorang blogger diatas membuat saya prihatin juga melihat kondisi yang ada disana, seakan akan Mataram adalah milik sekelompok orang, dan tidak ada orang yang mampu untuk menghentikannya.


Kritikan Kepada Ulama` Saudi

Mega Proyek Masjidil Haram

Di Satu sisi saya menghormati Faham Wahabi/Salafi dan bahkan aktif mengikuti kajian-kajiannya semenjak masih di ITTC (SMA) sampai saat ini. disisi lain banyak pendapat dari masyaikhnya yang kontra dengan pemikiran saya, terutama dalam hal kebijakan politik, selama ini para masyaikh disana sedang ditunggangi oleh pemerintah kerajaan. sehingga para masyaikh pun akan mengeluarkan berbagai macam Fatwa untuk melindungi kepentingan Kerajaan.

Menurut Salafi demonstrasi itu Haram...!!!!, ini adalah salah satu contoh dari Fatwa ulama` saudi untuk melindungi kekuasaan keluarga kerajaan, bukan untuk melindungi kemaslahatan ummat.

Ketika Gaza diserang, mereka berpura pura tuli dan buta termasuk para syaikh nya...!!!, Ketika bekas rumah rasul diratakan para syaikh hanya bisa menonton...!!! , entah berapa ratus situs perjuangan Rasul yang sudah dirusak hanya untuk kepentingan duniawi dan para syaikh hanya diam menonton dengan santainya. 

Seperti yang dilansir IslamPos.com dari reuters, disebutkan setidaknya ada 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Tentu juga harus melewati lorong-lorong kecil yang menanjak dan menikung. Semua bangunan itu sudah dua tahun ini hilang. Sudah digusur empat tahun lalu. Di situlah akan dibangun perumahaan modern, berupa apartemen pencakar langit sebanyak 40 tower (menara).

Demikianlah, pemerintah kerajaan Saudi terus menerus menghambur-hamburkan uang untuk melakukan pembangunan fisik di atas situs-situs sejarah Islam tanpa mempedulikan makna sejarah dari situs-situs tersebut. Mereka telah membongkar rumah Rasulullah di Madinah, rumah suci tempat malaikat pernah turun naik dari langit ke bumi untuk menemui kekasih-Nya. Mereka membiarkan terlantar kompleks pekuburan para syuhada dan pahlawan Islam, sebagiannya bahkan dibongkar dan di atasnya didirikan bangunan mewah.

Islam Sama dengan Arab ?

Arab ilustrasi

Arab= Islam ? ?
apakah Arab sama dengan
Islam???!! ataukah Islam=Arab...?
Sebuah pernyataan yg rancau dan
sesat. Inilah yg dijadikan
landasan oleh para Heater untuk
menilai Islam. jika ada Majikan
arab yg menyiksa pembantu, jika
ada para pangeran hidup
bermewah mewahan dan perilaku
kebobrokan OKNUM Arab lainnya
mereka jadikan sbg Landasan untuk menJudge bahwa Ajaran Islam memang seperti itu..!!! Hanya orang2 bodohlah yg menilai Islam seperti itu.
Nah bagaimana kalau saya menilai
suatu bangsa seperti ini.; Yang
menjajah Indonesia selama
berabad abad siapa? dan apa
Agama Mereka..? bisa kah saya
menJudge bahwa penjajahan yg
mereka lakukan itu adalah bagian
dari ajaran agamanya? Think...!!!

Terkadang yang menjadi landasan sebagian orang menilai Islam adalah perilaku bangsa Arab, sedangkan di negara-negara Arab sendiri juga banyak agama-agama selain Islam, seperti Yahudi dan Kristen. perlu diingat bangsa arab bukan hanya di negara Arab Saudi saja, tapi tersebar di berbagai negara gurun pasir atau lebih dikenal dengan jazirah arab, yang meliputi Qatar,Lebanon,Suriah,Mesir,Yaman dan lainnya. 

Arab saudi walaupun sebagai negeri tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW, tidak menjadikannya negara yang suci dan jauh dari penyimpangan, karena pada dasarnya Islam tidak hanya diturunkan untuk bangsa arab saja akan tetapi untuk seluruh ummat manusia yang ada di Dunia ini. dan Alloh SWT tidak menilai seseorang dari bangsa atau suku dan kekayaannya, namun yang dinilai adalah ketaqwaannya kepada sang Ilahi.

Dimanapun di Dunia ini pasti ada manusia yang berperilaku buruk sekalipun itu di Vatikan, berapa banyak pendeta,uskup,ustadz ataupun Syaikh yang ditangkap karena melanggar aturan aruran agama dan negara, kemudian layakkah kita berkata bahwa perbuatannya itu adalah yang diajarkan agamanya kemudian mengatakan bahwa agama A atau  B adalah Agama sesat? , tidak ada agama yang mengajarkan untuk berbuat kejahatan, semua agama pasti mengajarkan pada kebaikan. gelar ustadz,pendeta ataupun Kiyai tidak bisa menjadi jaminan untuk masuk ke syurga.

Gontor Itu Indah

Sumber Gambar: http://gontor.ac.id


Ada alasan kuat yang membuat saya tak dituduh "memuji-muji dan

membangga-banggakan Gontor karena memang bekas almamaternya". Pada
awal 1968, pasca-"revolusi lokal" yang gagal, saya mathrud alias
diusir atawa dipecat dari pondok modern itu.

Ketika itu berlangsung semacam martial law. Hukum darurat. Gara-gara
memprotes ketidakadilan Qismul Amn, semacam kopkamtib. Pak
"pangkopkamtib" mengadili saya jam 02.00 dini hari hingga bakda subuh.
Vonisnya, saya dideportasikan pagi itu juga, alias "gulung tikar
angkat koper"- demikian istilahnya di sana.

Beberapa hari kemudian, saya ke Gontor lagi khusus untuk
petentang-petenteng. Tak sampai setahun kemudian "panglima" keamanan
dan ketertiban ini mengalami nasib seperti saya, "gulung tikar angkat
koper". Namun, sejak itu "situasi politik" normal kembali.

Saya mensyukuri hikmah dari pengadilan subyektif itu. Bahkan
penghargaan saya terhadap Gontor sama sekali tak pernah menurun.
Pesantren masyhur itu, di masa silam memang pernah mencatat suatu
mekanisme sistem hukum yang brutal dan agak primitif. Namun, secara
keseluruhan, pola dan nuansa kependidikan Gontor adalah contoh
kongkret dari banyak hal yang dewasa ini kita baru menggagas-gagasnya
lewat perdebatan pemikiran di kota-kota yang selalu merasa lebih maju
dibanding yang bukan kota. Dan bagi saya sendiri, pengusiran itu
adalah metode yang sebaik-baiknya- suatu total alienation untuk suatu
total loneliness- yang menyiksa saya untuk menjadi saya sekarang ini.

Sejak itu saya amat rakus dengan metode "bersikap sangat keras bahkan
kejam kepada diri sendiri" dan menyeleksi cita-cita menjadi hanya
sebiji: bekerja keras sampai hari terakhir hidup saya. Pernah saya
menulis Gontor adalah camp Shaolin. Para santri bekerja dari pukul
04.00 hingga 22.00 nonstop, hidup dari bel ke bel. Makan, mandi,
olahraga sekolah berduyun-duyun, tidur berjajar-jajar bagai pindang.
Setiap anak berlatih membangun privacy, mendengarkan kesunyian diri,
di tengah riuh-rendah.
Bahkan gegap-gempita latihan pidato tiga bahasa dan gemuruh tepuk
tangan itu justru terasa begitu sepi di tengah sunyi pedusunan
sekitarnya. Kalau di tengah sepi malam Anda membunyikan sedenting
logam, suara itu menegaskan kesunyian.

Sepi juga isi pidato anak-anak itu: heroisme nasional, kisah
tokoh-tokoh pengubah dunia, jargon-jargon bahasa Inggris, balaghah
Arab, perekatan umat dan kemanusiaan- di tengah-tengah tradisi satu
antargolongan Kaum Muslimin, degradasi nasionalisme,
jangkauan-jangkauan sosio-politik dan sosio-budaya yang makin
menyempit, tatkala teknologi informasi menyeribu-kali-lipatkan mata
pandang manusia, serta di tengah idolatri masal terhadap hanya
figur-figur musik rock dan kiper sepak bola.

Namun, yang paling sunyi adalah ketika datang magrib, isya, dan subuh.
Tiga ribu santri menyuarakan kor puisi Abu Nawas tentang dosa
sebilangan pasir di padang-padang yang tak terukur karena bertepikan
cakrawala. Untunglah, yang mendendangkan sunyi adalah "seekor" Abu
Nawas yang "sinting": "Ya Allah, hamba ini tak potongan masuk surga,
tapi kalau harus masuk neraka ya jangan dong!".... Mendengarkan syair
Abu Nawas macam itu sering tak bisa saya halangi benak saya spontan
berkata, "Tuhan pasti jengkel, tapi juga pasti sayaaang banget sama si
Abu itu ...."

Dan pada Lebaran yang lalu, hati saya tak tertahankan untuk tak ke
Gontor sesudah hampir 15 tahun. Puisi Abu Nawas tak bisa dipentaskan
keagungannya dengan kecanggihan peralatan apa pun, dan sejauh yang
saya alami hanya di Gontor saya bisa memasuki puisi hidup Abu Nawas
(baca: Abu Nuwas), karena segala konsep estetika dan religiusnya
dipanggungkan di kedalaman jiwa dan kehidupan kongkret Pesantren
Gontor.

Kemudian ternyata Pak Kiai menyodorkan sunyi pula kepada saya. Ketika
untuk acara Delapan Windu Gontor saya rekomendasikan sebuah nama tokoh
nasional, Kiai bilang, "Ah, bagi beliau Gontor ini dekaden. Tidak
menyatu dengan masyarakat. Eksklusif. Tidak seperti
pesantren-pesantren pilot project LSM yang beliau pimpin yang
mengintegrasikan pondok ke masyarakat sekitarnya dengan kerja sama
sosial ekonomi, bikin pelatihan pertukangan, pertanian, kerajinan,
kewiraswastaan ...."

Kok, ada kiai minder begitu. Kan Gontor juga punya keistimewaannya
sendiri: pendidikan bahasa, disiplin, dan "sunah pondok"-nya, tidak NU
tidak Muhammadiyah. Santri-santrinya terkenal artikulatif dan
kepribadiannya.

Maka, sunyi itu menyeret kaki saya keliling pesantren, bahkan
sekelilingnya dalam radius setidaknya lima kilometer. Mata sunyi saya
menatapi santri-santri yang sedang sibuk mengurusi toko besi dan
perlengkapan bangunan, apotek, rumah sakit mini, huller alias dolognya
pondok yang bekerja sama dengan ribuan petani, rumah makan. Mereka
mengatur pembelian jasa ratusan penduduk untuk keperluan sehari-hari
para santri, masjid-masjid para warok, toko kelontong alias toserba,
toko buku. Para santri juga mendirikan bangunan sekolah di sekitar,
mengangkuti padi, mendekor seantero pesantren dengan rancangan estetik
yang sebebas-bebasnya asal jangan memelihara monyet, pramuka, musik,
teater ....

"Ah! Tapi itu bukan inisiatif saya, kok," ujar Pak Kiai malu-malu,
"Wong, itu semua ide anak-anak sendiri ...."

Gontor dan dusun-dusun sekitarnya itu small is beautiful, kecil itu
indah. Distribusi pendapatan, distribusi ide dan tanggung jawab,
kelangsungan bottom up murni tanpa proposal ke lembaga dana di planet
Mars untuk proyek konsientisasi, demokrasi yang diinfrastrukturi oleh
ilmu tentang batas, akidah, dan ilahiah, lempar tongkat jadi tanaman,
bola salju, bola salju, bola salju.

Kiai tak pernah kasih ceramah atau pengajian. Sesudah uluk salam di
podium masjid, langsung bilang, "Tolong, saya minta daftar pengaturan
rombongan santri yang mengangkuti batu bata untuk sekolahan yang di
desa Anu itu ...."

EMHA AINUN NADJIB
(Sumber: Majalah Tempo, Edisi. 17/XXII/15 - 21 Juni 1991)

Maulid Nabi; Sebuah Refleksi

Dulang | Sumber Foto : tkj2-smakansel.blogspot.com


#Maulid

Hem,..... bulan ini bulannya maulidan iya..??? 
Sebuah moment untuk mengingat kembali perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW ditengah-tengah banyaknya Manusia yang melupakan sejarahnya, dan belum mampu mengambil ibroh/pelajaran dari riwayat perjalanan beliau. 

Pada Forum Media Sosial ini saya tidak akan bercerita tentang Kisah Hidup Perjuangan Nabi kita, riwayatnya sudah kita pelajari sejak masih Sekolah Dasar dulu. atau bagi yang belum mengetahui tentang riwayatnya silahkan searching di om Google :-), Namun saya hanya ingin berbicara tentang pengaruh Maulid Nabi terhadap kehidupan kita sehari-hari, untuk apa kita merayakan maulid kalau tidak mendatangkan manfaat. 

Setiap tahun kita merayakan maulid di Masjid, Masjid penuh dengan jamaah yang akan mendengarkan Khutbah/ceramah sang Tuan Guru (Bahasa Lombok untuk pemuka agama.red) ,karena banyaknya jamaah teras Masjid pun penuh, sebuah pemandangan Indah yang jarang terlihat. Entah apa yang menjadi obsesi mereka untuk datang ke masjid, apakah karena makanan ataukah karena memang Lillahita`ala, hanya Alloh SWT yang tahu, kita positif thinking saja. 

Kata orang-orang "Dunia Sudah Terbalik", Ya, sebuah kata yang bisa dipertanggung jawabkan dengan realita yang ada, lihat saja berapa banyak laki-laki yang mengubah dirinya sebagai perempuan, berapa manusia yang menikah sesama jenis, dan kita sebagai ummat Islam pun juga terkadang terbalik; lebih mendahulukan yang sunnah ketimbang yang wajib, lebih mendahulukan yang mubah ketimbang yang sunnah. Salah satu contohnya bisa kita temukan pada saat Maulid Nabi, Masjid akan penuh disaat Maulid Nabi, Isra` Mi`raj dan PHBI lainnya dibandingkan dengan yang hadir Shalat Jama`ah. Inilah yang menjadi Tugas kita bersama dan khususnya para Tuan Guru (alim ulama). 

Tiap tahun kita selalu aktif merayakan kelahiran Nabi besar kita, dengan alasan karena cinta kepadanya, sehingga tidak tanggung-tanggung kita mengeluarkan banyak biaya untuk membeli  makanan sebagai hidangan di Masjid pada saat perayaan, itukah bukti Cinta kita padanya...???, Ya, salah satunya adalah itu. Namun esensi yang paling utama adalah : Bagaimana kita merenungkan kembali perjalanan hidup beliau dan mengikuti cara beragama beliau. Inilah yang menjadi Tugas besar para Alim Ulama` menyadarkan ummat lewat khutbah-khutbahnya, dan tentunya dengan suri tauladan.

Apa yang salah dengan Ummat ini..!!! Setiap tahun merayakan maulid Nabi, namun tidak ada perubahan...!!! setiap pekan mendengarkan Khutbah Jum`at namun tanpa ada bekas..!! lihat saja Masjid-masjid masih sepi, koruptor merajalela. Lalu apa yang dilakukan oleh para Alim Ulama` kita, Apakah mereka sudah sibuk dengan aktivitas politik sehingga melupakan ummat, atau memang para jamaah mengantuk saat khutbah berlangsung sehingga tidak mendengarkan isi khutbah..??, jawabannya bisa Iya. 

Melihat dinamika politik khususnya di Lombok, banyak tuan guru berlomba-lomba meraih kursi di pemerintahan dan legislatif, cukup dengan menyandang Tittle "Tuan Guru" walaupun bukan dari seorang profesional/politikus sudah cukup mengantarkannya ke kursi pemerintahan/legislatif. Tidak salah bagi tuan guru mencalonkan diri sebagai anggota dewan atau kepala pemerintahan, namun jangan sampai terlena dengan kekuasaan dan melupakan ummat. 

Kita juga tidak bisa serta merta menyalahkan Jamaah mengantuk ketika sedang mendengarkan Khutbah/Pidato sang Khotib pada saat khutbah jum`at atau Khutbah-khutbah PHBI (Peringatan Hari Besar Islam). kita perlu mlihat  sabbab musabbabnya mengantuk; bisa karena capek, content khutbah yang kurang menarik, cara penyampainnya yang kurang baik, atau mungkin karena memang orangnya yang pengantukan. Namun, kalau saya lihat rata-rata Jamaah mengantuk karena cara penyampaian khutbahnya yang kurang menarik. Khotib terkadang menyampaikan dengan intonasi datar-datar saja,layaknya anak SD yang sedang membaca Undang-Undang. Mari kita lihat hadits berikut bagaimana Nabi mencontohkan cara menyampaikan Khutbah : 

hadits Jabir bin Abdillah Radhioallahu ‘Anhu ia berkata, “Apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya meninggi dan semangatnya memuncak. Beliau bagaikan panglima perang yang sedang mengingatkan pasukannya. “Musuh menyerang kalian pada pagi dan sore hari….!!!”. (HR. Muslim no.867)

Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa para khatib dianjurkan untuk bersungguh-sungguh ketika berkhutbah, meninggikan suaranya, menegaskan perkataannya dan hendaklah penyampaiannya sesuai dengan tema targhib / anjuran dan tarhib / ancaman yang sedang diangkat. Mungkin semangat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memuncak ketika mengingatkan sesuatu urusan yang sangat penting atau perkara besar”. (Al-Minhaaj,6/155)

Subhanalloh,, Rasululloh SAW adalah seorang Orator sekaligus motivator yang mampu membangkitkan semangat ummatnya dan akan menangis disaat diperingatkan tentang adzab, betapa menjiwainya beliau tehadap apa yang disampaikaannya. maka dari itu hendaknya khotib mengetahui apa yang sedang dibutuhkan masyarakat sehingga isi dari khutbah tidak hanya membahas persoalan-persoalan klasik tentang baik dan buruk, namun juga harus menjiwai dan mengatur intonasi suara dan mimiknya.

Ada sedikit kritikan untuk sebagian tuan guru yang biasa diundang ke setiap acara PHBI (Peringatan Hari Besar Islam), sebagian diantara mereka menjadikan Masjid sebagai SMOKING AREA ditengah gencar gencarnya pemerintah melakukan pengadaan tempat Smoking Area. Disini saya tidak ingin memperdebatkan Hukum dari merokok itu sendiri, karena itu sudah ranahnya para alim ulama`, namun secara logika saja pantaskah kita merokok di Rumah Alloh yang disucikan..???, forum ulama` NU yang memakruhkan rokok saja mengharamkan untuk merokok didalam Masjid. Belum lagi dengan ulah "oknum" tuan guru yang kurang bisa menjaga "Kebersihan" Lidahnya, walaupun dengan maksud hanya candaan, itu sudah mendidik masyarakat untuk berkata kurang baik. terkadang Tuan Guru/Kiyai tak ubahnya seperti pelawak, lawakannya lebih banyak dibandingkan substansi pidatonya.

Dibalik "Oknum" tersebut masih banyak Tuan Guru, Kiyai, Muballigh, dan para Da`i kita yang masih bisa dijadikan tauladan, diantara mereka ada yang fokus terhadap pembinaan ummat tidak ikut-ikutan dengan hingar bingar politik praktis, tidak tergoda dengan empuknya kursi pemerintahan. Namun tuan Guru juga harus tetap mengontrol kinerja pemerintah dan menasehatinya. 

Ketika seorang terangkat menduduki suatu jabatan atau mengemban suatu tugas,hendaklah kita merenungkan atas dasar apakah ia terangkat dan menjabat??apakah karena keahliannya ataukah karena uangnya??ataukah karena ia memintanya atau tidak?? Sungguh amat beruntung orang yang terangkat karena ilmunya dan celakalah mereka yang terangkat karena selain itu.

Amirul Mukminin Umar Bin Khattab radiallohu anhu berkata:..Barangsiapa yang di jadikan pemimpin oleh kaumnya karena keilmuannya maka itulah keberuntungan bagi dia dan kaumnya dan barangsiapa yang di jadikan pemimpin oleh kaumnya bukan karena keilmuannya maka kecelakaanlah baginya dan bagi kaumnya.Addarimi no:241. Ahmad fizzuhdi.hal:262.

Allohu a`lam bissowab. 

Kenapa Hari Libur Mesti Hari Ahad ?

Ilustrasi | Sumber : celoteh-dira-arzmi.blogspot.com

Indonesia adalah Negara dengan jumlah pemeluk Agama Islam terbesar di Dunia, namun disadari atau tidak ummat Islam sudah banyak terkontaminasi dengan budaya-budaya diluar ajaran Islam itu sendiri. maka tidak mengherankan apabila orang Islam ditanya tentang tanggal hijriah, " Sekarang Tanggal berapa ya menurut kalender hijriah?? " kebanyakan akan menjawab "tidak tahu". ya, itulah fakta yang terjadi.

Sebutan hari Ahad saja sudah jarang terdengar di telinga kita, karena lebih familiar dengan sebutan hari "Minggu", orang yang mengatakan hari ahad akan dikatakan kolot atau bahkan tidak jarang diantara mereka tidak faham dengan nama hari ini, sangat disayangkan sebagian orang Islam kurang mengenal istilah-istilah atau nama-nama hari dalam agamanya.

Berbicara tentang hari Ahad tentu sudah terbayang dibenak kita, bahwa hari Ahad adalah hari yang sangat menyenangkan, karena dimana pada hari itu adalah hari libur dari aktifitas rutin di Sekolah, Kampus, Instansi pemerintahan dan beberapa lembaga swasta lainnya. 

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah kenapa hari Ahad itu dijadikan hari libur pekanan ?, bahkan disebagian besar negara didunia inipun menjadikan hari Ahad sebagai hari liburnya, kenapa tidak pada hari senin atau hari lainnya saja...???

Sebenarnya bukan hanya Ahad yang dijadikan hari libur. Bangsa Arab menjadikan Jum’at sebagai hari libur, karena menganggap Jum’at adalah hari untuk ibadah. Alasan sama pula yang digunakan bangsa Yahudi dalam menganggap Sabtu sebagai hari libur, begitupula dengan ummat nashrani yang menjadikan hari Ahad untuk libur karena alasan yang sama pula, andaikan negara kita ini menggunakan setiap argument agama, maka hari libur kita adalah hari Jum`at dan hari Ahad. 
 
Tradisi libur pada hari Ahad dimulai sejak zaman Romawi Kuno. Pada masa itu, bangsa Romawi Kuno beribadah pada hari Ahad, oleh karena itu mereka pun menjadikan hari tersebut sebagai hari libur. Seiring dengan itu, orang-orang Romawi Kuno juga selalu menandai hari-hari libur atau hari-hari penting dengan warna merah.

Pada masa kejayaannya, bangsa Romawi menguasai banyak negara di Eropa, dan kekuasaannya meliputi Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan lain-lain. Karena itu pula, tradisi libur pada hari Ahad pun kemudian diterapkan pada negara-negara jajahan Romawi, termasuk Belanda. Ketika Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, tradisi libur di hari Ahad pun diperkenalkan di Indonesia. Hal yang sama terjadi ketika negara-negara lain dijajah Inggris, Jerman, atau lainnya. Tidak heran kalau Indonesia masih mempertahankan peninggalan penjajah dengan menetapkan hari Ahad sebagai hari libur. Bahkan dibeberapa kampus pun menambah hari liburnya menjadi dua hari, yaitu pada hari Sabtu dan Ahad.

Yang menjadi pertanyaan lagi adalah; kenapa sebagian besar sekolah dan kampus-kampus Islam ikut-ikutan menjadikan hari Ahad sebagai hari liburnya...???, seharusnya mereka menjadi panutan didalam memuliakan hari Jum`at yang penuh berkah ini, dengan mejadikan Jum`at sebagai hari libur mereka.

Kalau melihat sekilas tentang hari libur ini memang sesuatu yang simple yang tidak boleh terlalu dijadikan masalah, namun inilah yang akan menjadikan ummat Islam lebih sadar akan kebesaran agamanya, dan lebih merasa memiliki terhadap agamanya.

Dengan diterapkannya Jum`at sebagai hari libur akan memberikan dampak positif terhadap pemanfaatan waktu, :

- Hari jum`at adalah hari Ibadahnya ummat Islam, dan rata-rata yang bekerja di kantor dan instansi lainnya adalah ummat Islam, sehingga kalau diterapkan libur pada hari Jum`at, maka akan meningkatkan kinerja pegawai, karena tidak dihalangi dengan durasi ibadah Jum`at. 

- Biasanya di sekolah-sekolah, pada hari Jum`at akan pulang lebih awal dari biasanya, dan ini akan mengakibatkan pengurangan jam belajar di sekolah. 

- Dengan Libur pada hari Jum`at akan menambah kekhusukan ummat Islam didalam menjalankan ibadah, tidak terganggu dengan pekerjaannya, sehingga akan datang ke Masjid tepat pada waktunya. dan berbagai pertimbangan lainnya.

Harapan penulis, yang menjadi contoh pertama untuk libur pada hari Jum`at adalah lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah (MI, MTs, MA), Kampus (UIN,IAIN,STAIN), dan lembaga-lembaga Islam lainnya.

Semoga kita tidak tergolong kedalam hadits Nabi SAW :


"Barang Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia 

termasuk diantara mereka"
(HR. Abu Dawud)