Ritual Rebo Buntung Antara Adat dan Syirik

4:18 AM , 6 Comments



Sumber Foto | www.nusatenggaraindonesia.com


Berawal  dari tayangan “Potret Menembus Batas”  yang mengekspose  tentang salah satu tradisi masyarakat sasak Lombok di SCTV pada hari Senin, 21 januari 2013 pukul. 1.30 WIB | menggerakkan  saya untuk menulis salah satu tradisi sasak Lombok yang unik ini,  ternyata ritual-ritual yang menggunakan sesajen bukan hanya di tanah jawa seperti yang banyak diberitakan di media.  Saya semakin yakin akan kekuatan budaya lelehur dahulu sehingga sampai saat ini budaya tersebut  masih menjadi sebuah tradisi yang wajib dilaksanakan sekali dalam setahun, yang menurut  penuturan salah satu masyarakat di Lombok timur, apabila ritual tersebut tidak dilaksanakan maka akan banyak terjadi musibah, benar atau tidakanya tapi itulah kepercayaan masyarakat yang sudah mendarah daging.  Ritual yang saya maksud itu adalah “Rebo Bontong” atau “Rebo Buntung”.

 
Rebo Bontong ini mengandung arti : “Rebo “dan “Bontong” /”Buntung”  yang berarti putus sehingga bila diberi awalan pe menjadi pemutus. Upacara Rebo Bontong dimakusdkan untuk menolak bala' (bencana/penyakit), dilaksanakan setiap tahun sekali tepat pada hari Rabu minggu terakhir pada bulan Safar (kalender Hijriah). Menurut kepercayaan masyarakat Sasak bahwa pada hari Rebo Bontong adalah merupakan puncak terjadi bala (bencana/penyakit), sehingga sampai sekarang masih dipercaya untuk tidak memulai suatu pekerjaan pada hari Rebo Bontong, rebo bontong ini juga dijadikan untuk perayaan menyambut bulan Rabi`ul Awal, bulan kelahirannya nabi Muhammad SAW. 
Upacara rebo bontong yang diliput oleh SCTV ini adalah upacara yang dilaksanakan di pantai Tanjung menangis -Ketapang  kecamatan Pringgabaya lombok timur , Lelanung sesaji  juga turut dipersembahkan  sebagai rasa syukur berupa makanan, buah-buahan , satu kepala sapi serta hasil bumi menuju  ke tengah laut.  Selain itu terdapat ritual khusus yakni setelah lelanung sesaji dibawa ketengah laut,  masyarakat  melakukan ritual  pembersihan diri dengan mandi  di sekitar  pantai. 

Ritual tahunan ini tidak bisa dipisahkan dengan budaya leluhur suku sasak dahulu yang masyarakatnya masih menganut agama dan budaya hindu yang kental, sehingga tidak mengherankan budaya tersebut masih menjadi ritual tradisi masyarakat sasak walaupun Lombok sudah didominasi kaum muslim, sebuah akulturasi budaya Hindu-islam yang sudah melekat pada masyarakat selama ratusan tahun. 

Oleh Pemerintah ritual adat ini dijadikan sebagai sebagai salah satu ikon wisata Lombok, untuk mengundang para pengunjung wisatawan lokal dan manca negara, dan terbukti ritual ini dapat menggaet banyak turis dari manca negara.


Kemusyrikan

Rebo Buntung itu ada yang menyebutnya adat, ada pula yang menilainya sebagai kepercayaan. Islam memandang, adat itu ada dua macam, adat yang mubah (boleh) dan adat yang haram. Sedang mengenai kepercayaan, itu sudah langsung haram apabila bukan termasuk dalam Islam.

Adat yang boleh contohnya Sapuq (Ikat kepala) untuk orang Lombok-Bali. Itu tidak dilarang dalam Islam.Tetapi Lambung/Kebaya, pakaian pendek wanita/ada juga seperti jaring-jaring ikan (maaf kurang tahu namanya), itu haram, karena tidak menutup aurat. Tetapi kalau dilengkapi dengan kerudung, menutup seluruh tubuh dan juga menutup rambut kepala, maka tidak haram lagi, jadi boleh. 

Demikian pula Rebo Buntung dan yang sejenisnya, sekalipun ada yang mengatakan bahwa itu merupakan adat, namun karena menyangkut hal ghaib, berkaitan dengan nasib sial, bahaya dan sebagainya; maka jelas merupakan keyakinan batil, karena Islam tidak mengajarkan seperti itu.

Sedang keyakinan adanya bala’ akibat kondisi dilahirkannya seseorang itupun sudah merupakan pelanggaran dalam hal keyakinan, yang dalam Islam terhitung syirik, menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang orangnya disebut musyrik, pelaku durhaka terbesar dosanya. Tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya keyakinan itu, namun justru ada ketegasan bahwa meyakini nasib sial dengan alamat-alamat seperti itu adalah termasuk tathoyyur, yang hukumnya syirik, menyekutukan Allah SWT; dosa terbesar.
athoyyur atau Thiyaroh adalah merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.

 Abu Dawud meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud ra:
Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, dan tiada seorangpun dari antara kita kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (Hadits Riwayat Abu Daud).

”Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu,jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” (Yunus/ 10:106).

Yang Bisa Kita lakukan

Hal pertama yang dilakukan adalah menyadarkan umat Islam bahwa bencana dan musibah ini benar-benar azab dari Allah atas maraknya kemusyrikan dan kemaksiatan di tengah-tengah kehidupan mereka.Itu yang harus dilakukan dahulu. Setelah itu, umat harus melakukan tobat nasuha, tobat yang sebenar-benarnya tobat. Masyarakat harus meninggalkan segera hal-hal yang berbau musyrik. Sebab kemusyrikan itu merupakan puncak dari kedzaliman.

Para ulama harus berani bicara bahwa bencana yang bertubi-tubi ini merupakan adzab dari Allah kepada manusia. Sayangnya para ulama tidak ada yang berani bicara, padahal ayatnya sangat banyak dalam Al-Qur’an.
Para ulama juga harus berani menegur umat dan pemerintah. Sebab pemerintah secara khusus memberikan lampu hijau maraknya kemaksiatan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pemerintah lewat Dinas Pariwisata dibantu dengan media massa membesar-besarkan upacara adat yang jelas-jelas penuh dengan kemusyrikan.

Allohu a`lam bisshowab.



6 comments:

  1. bukti para tuan guru terlalu sibuk di belakang mimbar masjid dan meja parlemen. kalau udah ada kepentingan politis baru turun ke bawah, blusukan

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya bang itulah yg terjadi, TuanGuru2 yg qt cintai kebanyakn terbuai dengan retorika manis para politisi,shingga skrng ini sangat jarang qt mnemukan Tuan Guru yg tdk terkontaminasi politik. bermain di "api panas politik" mmbuat kewibawaan tuan guru dimata msyarakat mngalami degradasi. salam kenal juga bang blogger. :-)

      Delete
  2. Tradisi yang sudah dikenal sejak lama dalam masyarakat memang sulit untuk dilupakan/ditinggalkan pendukungnya. Apa lagi sekarang pemda memberikan suport dengan menjadikannya sebagai ikon pariwisata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih pak, mau gimana lagi..:/ , bingung, yg bisa kita lakukan adalah menjaga diri dan keluarga aja dech dulu.

      Delete
  3. Hari ini hari Rebo Bontog, tanggal 9 desember 2015. Alhamdulillah mulai hari ini kebiasaan Rebo Bontong dikembalikan ke asalnya yaitu datang kepantai mandi, makan bersama keluarga dan bertemu dengan sehabat kerabat. tidak ada lagi Ritual yang dinamakan ritual Rebo Bontong, karena memang asalnya tidak ada Ritual apalagi ritual penyembelihan. Ritual yang pernah dilangsir di Tv, itu sebenarnya mengada-ada alias pembohongan publik yang dimulai 4 tahun terakhir ini. Allahu Akbar! Pemuka agama, Adat, Pemuda dan Pemerintah telah mengadakan pertemua di Masjid Jami'ul Khair Pringgabaya dan telah bersepakat untuk mengembalikan Rebo Bontong kebentuk asalnya.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentar anda