Galery Kampus Brawijaya

Wisuda Hingga Kuliah




Rasanya sudah sangat lama tidak aktif menulis lagi pada blog ini, semenjak diwisudanya saya dari program S1 tahun 2014 yang lalu hingga akhirnya saya diterima di program magister teknik elektro Universitas Brawijaya. Mimpi saya sebenarnya ingin melanjutkan study ke  luar negeri, namun takdir berkata lain. Mungkin ini adalah jalan terbaik bagi saya. Kita sebagai manusia hanya bisa berbaik sangka pada sang pencipta (kata seorang ustadz).

Sebelum “diangkat” sebagai mahasiswa magister elektro, terlebih dahulu kita mengikuti kuliah matrikulasi, perkuliahan matrikulasi dilaksanakan setelah surat keputusan tentang kelulusan tes seleksi mahasiswa diterbitkan, perkuliahan matrikulasi diikuti oleh semua mahasiswa yang lolos tes tanpa terkecuali, selama kurang lebih 15 hari mengikuti kuliah matrikulasi, rasanya kuliah ini tampak berbeda dengan di S1, terutama dalam pergaulan social antar sesama teman kelas,  maklum saja banyak diantara teman kelas yang sudah berjenggot, sudah berkeluarga bahkan hingga yang sudah hampir gendong cucu. 

Namun tidak sedikit pula mahasiswa yang masih seumuran dengan saya alias fresh graduate, perlakuan S2 dengan S1 ternyata tidak jauh berbeda, tidak ada toleransi dalam penugasan bagi yang sudah berkeluarga ataupun belum, makanya saya terkadang kasihan melihat teman-teman yang sudah berkeluarga , mereka harus pintar mengatur waktu, antara kuliah kerja dan ngurus keluarga, karena perkuliahan dilaksanakan setiap hari (kecuali hari selasa).

Ada salah seorang kenalan, pekerjaannya adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di JATIM, beliau harus rela berpisah dengan anggota keluarganya untuk beberapa hari bahkan sampai seminggu demi menyelesaikan tugas-tugas akademik. Begitupula dengan tugas mengajarnya di kampus harus ditunda dulu. 

Kuliah S2 sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perkuliahan S1, hanya saja pada perkuliahan di S2 tugas-tugasnya lebih berbobot. Dan kita memang dituntut untuk lebih aktif lagi membaca buku dan bereksferiment. Kalau tidak begitu maka kita akan mati kutu di dalam kelas.



Tradisi Maulid Nabi di Dasan Agung Mataram

Sore tadi saya menerima SMS dari orang terdekat saya di kampus, yang sedang pulang liburan ke kampung halamannya di Kota Mataram, SMS yang dikirimnya membuat saya terkejut.  Isi SMS nya adalah sebagai berikut :

"Kak, saya takut melewati dasan agung, banyak orang mabuk di jalanan memperingat maulid Nabi, sampai-sampai ada polisi ditikam "
Melihat SMS seperti itu membuat saya bertanya tanya dalam hati, apakah betul apa yang dikatakannya ?, kemudian untuk membuktikan perkataannya, saya langsung berselancar di mesin pencari Google,ternyata  apa yang dikatakan teman saya tadi sama persis dengan apa yang ditulis oleh seorang blogger http://mauliddasanagung.blogspot.com/ , saya hanya bisa geleng-geleng kepala.
apakah memang seperti itu perayaan maulid nabi SAW ? yang dirayakan dengan arak-arakan dijalanan sambil minum-minuman keras diikuti dengan musik-musik dugem. Naudzubillah..........








Berikut saya petik tulisan dari http://mauliddasanagung.blogspot.com/ dan http://darulhikmahgapuki.blogspot.com/2013/01/maulid-nabi-muda-mabok-di-jalan-yang.html "

"Dasan Agung yang terletak di tengah-tengah kota Mataram merupakan “Betawinya” Kota Mataram karena disana masih terpeliharan tradisi nenek moyang hingga sekarang. walaupun posisinya yang strategis berada di tengah kota, namun tidak menyebabkan masyarakatnya serta merta melupakan tradisi yang sudah turun temurun itu. Bila tradisi yang terpelihara sesuai dengan norma agam Islam maka itu sangat bagus dan perlu di pelihara tapi bila menyalahi norma agama Islam justru tradisi yang jelek itu yang harus di hilangkan.  Mengenai tradisi yang terperlihara sampai sekarang adalah berupa Maulid Nabi Muhammad SAW yang di warnai dengan perbuatan yang berlawanan dengan norma agama berupa mabuk-mabukan sewaktu mengiringi pereje(kuda-kudaan yang dibopong oleh 4 pemuda dan di atasnya ada anak kecil yang akan disunat duduk) inilah yang menyebabkan Kelurahan Dasan Agung terkenal. Tidak hanya para pemuda yang mabuk-mabukan tapi anak kecil yang masih sekolah di tingkat SD pun mengikuti para pemuda untuk mabuk-mabukan. Hal ini sering timbul pertanyaan dari masyarakat di luar Dasan Agung, apakah orang tua anak sekolah tersebut tidak memarahi anaknya?? Dan bagaimana peran Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama dalam kejadian mabuk-mabukan waktu peringatan Maulid Nabi? Dengan ungkapan yang sudah umum “SEKALI SETAHUN…” setiap perayaan maulid Nabi, sebagian  orang tua akan cuek melihat kelakuan anaknya dan malah orang tua tersebut yang menyuruh dan mendukung anaknya untuk berbuat seperti itu. Hal ini bisa dilihat dengan semakin banyaknya anak-anak kecil yang menyemir rambutnya dengan warna warni mulai dari yang harganya murah ampe yang mahal, mereka ikut bergoyang ria di jalanan sambil mengiringi pereje (kuda-kudaan), mulai mencoba merokok, mencoba minum-minuman keras(minum Tuak) plus libur sholat 5 waktu. NA’UDZUBILLAAHI MINJALIK. Pernah dua kali menurut penulis ketahui para tokoh agama dan tokoh masyarakat bersepakat dalam musyawarah di masjid untuk meniadakan pereje tersebut namun setelah keluar dari masjid, tokoh agama dan masyarakat yang semula mendukung  ternyata banyak yang tidak mengikuti hasil kesepakatan bersama. Tokoh agama yang di komandoi oleh penghulu waktu itu justru takut untuk mendukung meniadakan pereje tersebut, alasannya karena takut  ancaman dari sebagian kecil masyarakat yang tidak akan menaikkan DULANG DI MASJID jika pereje tersebut di tiadakan. Sedangkan tokoh masyarakat yang konsekuen mendukung pereje di tiadakan dalam peringatan Maulid Nabi, menjadi bahan gunjingan dan ejekan. Malah yang lebih jahilnya lagi di depan rumah tokoh masyarakat yang konsekuen itu di tumpahi minuman tuak yang memabukkan tersebut dan pernah di rumah penulis sendiri ada anak muda yang mabuk yang sengaja masuk untuk memancing orang tua penulis. Untung keburu di ajak keluar oleh temannya waktu itu. Kini tokoh agama dan masyarakat yang ada sudah tidak bisa “mengaum” lagi dan tidak ada lagi yang keras menolak pereje yang di iringi dengan mabuk-mabukan. Hal ini di sebabkan karena :  Tokoh agama dan masyarakat yang keras tidak setuju pereje di adakan setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah meninggal dunia. Tokoh agama dan masyarakat sekarang kurang di dengar omongannya karena kurang tegas dalam mengambil sikap. Sebagian tokoh masyarakat yang dulu setuju pereje diadakan sekarang menjadi tokoh masyarakat dan tokoh agama. Awal mula adanya pereje terutama di lingkungan Gapuk yang penulis ketahui dan dengar dari orang tua, keluarga dan masyarakat bisa di kategorikan menjadi:

1.      Pereje tahap awal. Pada tahap ini masyarakat yang akan menyunatkan anaknya membuatkan pereje berupa banguan yang bernuansa islami seperti masjid, gapura dll. Iringan musiknya pun masih bernuansa islami seperti rudat, kasidah dll.

2.      Pereje tahap kedua. Pada tahap ini masyarakat sudah mulai malas membuatkan anaknya pereje yang bernuansa islami dan lebih senang menyewa yang sudah jadi seperti kuda-kudaan yang menyerupai patung. Speaker merk TOA pada tahap ini dah menjadi booming tuk digunakan dan alunan musiknya pun dah mulai diganti yang semula musik islami menjadi musik gendang beleq yang menyerupai musik orang Hindu. Dengan masuknya musik gendang beleq dalam pereje tersebut, otomatis nuansa keislaman pada pereje yang di adakan menjadi hilang dan berubah menjadi nuansa kehinduaan. Hal ini mengungkit memori para tokoh agama dan masyarakat akan nasib orang tua pada jaman penjajahan kerajaan hindu di dasan agung. Pada tahap ini juga masyarakat yang masih lemah agamanya mulai mengkonsumsi minuman keras (minum Tuak).

3.      Pereje tahap ketiga. Pada tahap ketiga atau sekarang ini pereje tetap menggunakan kuda-kudaan dan musik yang mengiringi pereje pun mengalami perubahan dratis. Yang semula musiknya menggunakan gendang beleq telah diganti dengan musik dangdut cabul, pop, rock dll. Sound system yang digunakan untuk mengiringi pereje mendekati sound system pada diskotik. Sehingga banyak masyarakat di luar dasan Agung mengatakan diskotik berjalan bila ada pereje. Pada tahap ini ini juga sudah mulai adanya pengkaderan bagi anak-anak pra sekolah sampe SMA. Hal ini bisa dilihat dengan keterlibatan anak-anak pra sekolah ketika mengiringi pereje di jalanan. Anak-anak ini otomatis akan meliburkan diri dari kegiatan sekolah dan yang sudah baligh pun otomatis akan meliburkan diri dari kegiatan sekolah dan sholat.

Tradisi yang sudah mendarah daging ini  tidak bisa langsung di hapuskan karena banyak faktor yang menjadi penyebab mengapa masyarkat masih kuat mempertahankan tradisi ini terutama dengan adanya pereje setiap perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, bila akan menghentikan pereje di lingkungan Gapuk maka sebagian masyarakat mengancam tidak akan menaikkan dulang ke masjid, orang tua semakin banyak yang sengaja menyewa pereje sebagai bentuk perlawanan terhadap keputusan dari tokoh  agama dan masyarakat dan orang-orang yang mabuk pada waktu pereje di arak baik pada waktu malam maupun pagi semakin banyak malah sampai mengundang dari luar lingkungan Gapuk untuk ikut mabuk-mabukan pada waktu itu. Maka para tokoh agama dan masyarakat sekarang ini memilih menggunakan alternatif terakhir dalam menyikapi tradisi mabuk pada perayaan Maulid Nabi dengan berdiam diri. Tidak melarang dan tidak menganjurkan. Harapan dan do’a dihati para tokoh agama dan masyarakat agar orang yang sekarang mabuk-mabukan yang menghina hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bisa sadar sendiri atau ajal yang menjemput mereka biar berkurang yang menghina kelahiran Nabi Muhammada SAW.  Semoga suatu saat nanti masyarakat Dasan Agung bisa total memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tanpa ada yang melanggar perintah agama"










Sumber foto :


Melihat ungkapan seorang blogger diatas membuat saya prihatin juga melihat kondisi yang ada disana, seakan akan Mataram adalah milik sekelompok orang, dan tidak ada orang yang mampu untuk menghentikannya.


Kritikan Kepada Ulama` Saudi

Mega Proyek Masjidil Haram

Di Satu sisi saya menghormati Faham Wahabi/Salafi dan bahkan aktif mengikuti kajian-kajiannya semenjak masih di ITTC (SMA) sampai saat ini. disisi lain banyak pendapat dari masyaikhnya yang kontra dengan pemikiran saya, terutama dalam hal kebijakan politik, selama ini para masyaikh disana sedang ditunggangi oleh pemerintah kerajaan. sehingga para masyaikh pun akan mengeluarkan berbagai macam Fatwa untuk melindungi kepentingan Kerajaan.

Menurut Salafi demonstrasi itu Haram...!!!!, ini adalah salah satu contoh dari Fatwa ulama` saudi untuk melindungi kekuasaan keluarga kerajaan, bukan untuk melindungi kemaslahatan ummat.

Ketika Gaza diserang, mereka berpura pura tuli dan buta termasuk para syaikh nya...!!!, Ketika bekas rumah rasul diratakan para syaikh hanya bisa menonton...!!! , entah berapa ratus situs perjuangan Rasul yang sudah dirusak hanya untuk kepentingan duniawi dan para syaikh hanya diam menonton dengan santainya. 

Seperti yang dilansir IslamPos.com dari reuters, disebutkan setidaknya ada 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Tentu juga harus melewati lorong-lorong kecil yang menanjak dan menikung. Semua bangunan itu sudah dua tahun ini hilang. Sudah digusur empat tahun lalu. Di situlah akan dibangun perumahaan modern, berupa apartemen pencakar langit sebanyak 40 tower (menara).

Demikianlah, pemerintah kerajaan Saudi terus menerus menghambur-hamburkan uang untuk melakukan pembangunan fisik di atas situs-situs sejarah Islam tanpa mempedulikan makna sejarah dari situs-situs tersebut. Mereka telah membongkar rumah Rasulullah di Madinah, rumah suci tempat malaikat pernah turun naik dari langit ke bumi untuk menemui kekasih-Nya. Mereka membiarkan terlantar kompleks pekuburan para syuhada dan pahlawan Islam, sebagiannya bahkan dibongkar dan di atasnya didirikan bangunan mewah.

Islam Sama dengan Arab ?

Arab ilustrasi

Arab= Islam ? ?
apakah Arab sama dengan
Islam???!! ataukah Islam=Arab...?
Sebuah pernyataan yg rancau dan
sesat. Inilah yg dijadikan
landasan oleh para Heater untuk
menilai Islam. jika ada Majikan
arab yg menyiksa pembantu, jika
ada para pangeran hidup
bermewah mewahan dan perilaku
kebobrokan OKNUM Arab lainnya
mereka jadikan sbg Landasan untuk menJudge bahwa Ajaran Islam memang seperti itu..!!! Hanya orang2 bodohlah yg menilai Islam seperti itu.
Nah bagaimana kalau saya menilai
suatu bangsa seperti ini.; Yang
menjajah Indonesia selama
berabad abad siapa? dan apa
Agama Mereka..? bisa kah saya
menJudge bahwa penjajahan yg
mereka lakukan itu adalah bagian
dari ajaran agamanya? Think...!!!

Terkadang yang menjadi landasan sebagian orang menilai Islam adalah perilaku bangsa Arab, sedangkan di negara-negara Arab sendiri juga banyak agama-agama selain Islam, seperti Yahudi dan Kristen. perlu diingat bangsa arab bukan hanya di negara Arab Saudi saja, tapi tersebar di berbagai negara gurun pasir atau lebih dikenal dengan jazirah arab, yang meliputi Qatar,Lebanon,Suriah,Mesir,Yaman dan lainnya. 

Arab saudi walaupun sebagai negeri tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW, tidak menjadikannya negara yang suci dan jauh dari penyimpangan, karena pada dasarnya Islam tidak hanya diturunkan untuk bangsa arab saja akan tetapi untuk seluruh ummat manusia yang ada di Dunia ini. dan Alloh SWT tidak menilai seseorang dari bangsa atau suku dan kekayaannya, namun yang dinilai adalah ketaqwaannya kepada sang Ilahi.

Dimanapun di Dunia ini pasti ada manusia yang berperilaku buruk sekalipun itu di Vatikan, berapa banyak pendeta,uskup,ustadz ataupun Syaikh yang ditangkap karena melanggar aturan aruran agama dan negara, kemudian layakkah kita berkata bahwa perbuatannya itu adalah yang diajarkan agamanya kemudian mengatakan bahwa agama A atau  B adalah Agama sesat? , tidak ada agama yang mengajarkan untuk berbuat kejahatan, semua agama pasti mengajarkan pada kebaikan. gelar ustadz,pendeta ataupun Kiyai tidak bisa menjadi jaminan untuk masuk ke syurga.