Hai Mahasiswa !

Mahasiswa 1

Mulutmu Harimaumu


Sudah banyak kata bijak yang menyinggung tentang pentingnya menjaga lisan (lidah), berapa banyak kaum yang terlibat konflik gara-gara seorang yang tidak pandai menjaga lidah, berapa banyak hubungan keluarga retak karena hanya gara-gara lidah, berapa banyak negara terlibat adu kekuatan karena lidah tak bertulang ini.

Namun, berapa orang yang mendapat kebaikan hanya karena menjaga lidah. Terlihat sepele namun memberikan efek yang cukup besar. banyak dari kalangan ilmuan yang memberikan perhatian besar terhadap apa yang akan diakibatkan lisan, sehingga mereka selalu menasihati kita lewat syair, pidato tulisan dan lain sebagainya.

Dua orang yang tadinya berteman dengan akrab sehidup semati bisa jadi saling membenci karena lisan, suami istri bisa jadi hubungannya retak karena lisan, sungguh apa yang keluar dari lisan baik ataupun buruk akan menimbulkan pengaruh yang besar khususnya dalam suatu hubungan.

Presiden pertama Indonesia adalah sosok orator ulung pada masanya, dia berhasil menggetarkan hati rakyat melalu orasinya yang bijak dan tegas, sehingga pidatonya akan selalu ditunggu tunggu oleh rakyat. Sedikit mengingat sejarah tentang kehancuran Islam di Baghdad, Pasukan Tartar berhasil masuk kota Bagdad, menghancurkan dan membakar Bagdad, karena adanya pengkhianatan, yang dilakukan seorang pengikut Syiah, dan bersedia berkolaborasi dengan pasukan Tartar, menghancurkan Daulah Abbasiyah. Bagdad, seperti yang ada dalam kisah ‘1001 malam’, yang menggambarkan kemasyhuran kekuasaan Islam, pengaruh peradabannya, dan nilai-nilai, yang sangat mulia, pupus oleh pengkhianatan dan perang, dan menghancurkan kekuasaan Islam.

Sungguh, apa yang diucapkan lisan akan berdampak baik ataupun buruk, tergantung dari apa yang diucapkannya, sembari menasehati diri, marilah kita memperhatikan lidah yang tak bertulang ini untuk kebaikan pribadi dan orang banyak, jangan sampai karena lidah kita terjerumus kedalam lubang kerusakan dan akan merugikan orang lain. 
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf
Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bis meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Al SyafiI mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga Nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qaf[50]:18). - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu#sthash.N2mbEbco.dpuf

Salah Setting Waktu


Pagi itu sekitar pukul 7.30 (menurut handphone) saya mendapat panggilan telepon dari orang tua, menanyakan perihal tentang perkuliahan dan pekerjaan, beliau hanya ingin memastikan kalau saya sudah menerima gaji atau belum.  walaupun baru bangun dari "tidur lanjutan", saya menjawabnya dengan intonasi suara yang cukup fresh, supaya tidak terkesan baru bangun. maklum orang tua biasanya akan marah kalau waktu pagi digunakan untuk tidur. Saya juga belum bisa menghentikan kebiasaan bergadang sampai larut malam,karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan.

Sambil melihat jam di Handphone, jam sudah menunjukkan pukul 7.31..!!!! alangkah terkejutnya saya, karena ada kelas Antena pukul 07.30. masih dalam keadaan intonasi fresh saya menjawab pertanyaan orang tua "iya pak... saya sudah terima, etc......." . karena bapak tau saya ada kelas pukul 7.30, beliau segera mengakhiri telponnya dengan wassalam.

Saya kembali mencoba untuk melihat jam di Handhphone, jam sudah menunjukkan pukul 07.35 menit..!!!!, saya makin kaget..!!!, karena manasin sepeda motor pun belum apalagi mandi. setelah menimbang dan berdiskusi dengan diri sendiri akhirnya saya memutuskan untuk segera manasin sepeda motor kemudian mandi seadanya alias cuci muka :D, sambil bergegas mengganti pakaian saya melihat jam kembali, sudah menunjukkan pukul 07.50. kini saya membutuhkan waktu 10 menit untuk tiba di kampus, biasanya saya menghabiskan waktu perjalanan dari dieng dan kampus brawijaya butuh 15 menit dengan kecepatan standard menerobos macetnya jalanan kota Malang.

Ssssssst.......... tancap gas, dengan kecepatan diluar kebiasaan, akhirnya sampailah saya di kampus tercinta, yang Insya Alloh tinggal 1,5 tahun lagi saya akan meninggalkannya. menaiki tangga elektro cukup membuat tubuh sedikit berkeringat, yah.. hitung-hitung buat olahraga pagi. sampai di ruang A.1.2, menengok sana sini dari luar ruangan, ternyata lampu ruangannya masih belum dinyalakan, kalau ada perkuliahan biasanya ruangan ini disertai sorotan lampu. penghuni ruangan pun enggak ada. sambil bergumam.... saya putuskan untuk kembali ke ruangan bawah, ternyata disana keadaannya sama juga dengan ruangan yang diatas. Hemmmmmmm..... entah kemana ini orang-orang... kendaraan juga masih terlihat lengang di parkiran.

Jam di Handphone sudah menunjukkan pukul 08.13, saya masih memikirkan kira-kira ruangan mana yang dipakai untuk perkuliahan, atau mungkin hari ini tidak ada perkuliahan. bosan lama berpikir, akhirnya pertanyaan baru datang, bisa jadi jam di handphone salah setting....???
tanpa lama berpikir, saya langsung bertanya ke seorang adik tingkat yang kebetulan duduk tidak jauh dari tempat saya berdiri, ternyata dugaan saya benar. jam di handphone saya salah setting. artinya saya kepagian. yah... sudah buru-buru, kebut-kebutan tau taunya datang kepagian.

Maha benar Alloh, "Setiap kejadian ada hikmahnya" kira-kira kalimat inilah yang saya ingat ketika ditraktir makan di perpustakaan oleh ketua kelas dalam rangka hari kelahirannya. mungkin inilah salah satu dari hikmahnya saya datang kepagian ke kampus :). 


@ Gazebo perpustakaan Brawijaya

Ket: Sumber Gambar eramuslim.com

Galery Kampus Brawijaya

Wisuda Hingga Kuliah




Rasanya sudah sangat lama tidak aktif menulis lagi pada blog ini, semenjak diwisudanya saya dari program S1 tahun 2014 yang lalu hingga akhirnya saya diterima di program magister teknik elektro Universitas Brawijaya. Mimpi saya sebenarnya ingin melanjutkan study ke  luar negeri, namun takdir berkata lain. Mungkin ini adalah jalan terbaik bagi saya. Kita sebagai manusia hanya bisa berbaik sangka pada sang pencipta (kata seorang ustadz).

Sebelum “diangkat” sebagai mahasiswa magister elektro, terlebih dahulu kita mengikuti kuliah matrikulasi, perkuliahan matrikulasi dilaksanakan setelah surat keputusan tentang kelulusan tes seleksi mahasiswa diterbitkan, perkuliahan matrikulasi diikuti oleh semua mahasiswa yang lolos tes tanpa terkecuali, selama kurang lebih 15 hari mengikuti kuliah matrikulasi, rasanya kuliah ini tampak berbeda dengan di S1, terutama dalam pergaulan social antar sesama teman kelas,  maklum saja banyak diantara teman kelas yang sudah berjenggot, sudah berkeluarga bahkan hingga yang sudah hampir gendong cucu. 

Namun tidak sedikit pula mahasiswa yang masih seumuran dengan saya alias fresh graduate, perlakuan S2 dengan S1 ternyata tidak jauh berbeda, tidak ada toleransi dalam penugasan bagi yang sudah berkeluarga ataupun belum, makanya saya terkadang kasihan melihat teman-teman yang sudah berkeluarga , mereka harus pintar mengatur waktu, antara kuliah kerja dan ngurus keluarga, karena perkuliahan dilaksanakan setiap hari (kecuali hari selasa).

Ada salah seorang kenalan, pekerjaannya adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di JATIM, beliau harus rela berpisah dengan anggota keluarganya untuk beberapa hari bahkan sampai seminggu demi menyelesaikan tugas-tugas akademik. Begitupula dengan tugas mengajarnya di kampus harus ditunda dulu. 

Kuliah S2 sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perkuliahan S1, hanya saja pada perkuliahan di S2 tugas-tugasnya lebih berbobot. Dan kita memang dituntut untuk lebih aktif lagi membaca buku dan bereksferiment. Kalau tidak begitu maka kita akan mati kutu di dalam kelas.